finansial
Rabu, 13 Mei 2026 10:43 WIB
Penulis:Redaksi Daerah
Editor:Redaksi Daerah

JAKARTA - Audit keuangan pribadi adalah proses memantau sekaligus meninjau arus uang yang masuk dan keluar dalam periode tertentu, umumnya selama satu bulan.
Proses ini bukan untuk menyalahkan pola pengeluaran, melainkan membantu seseorang melihat kondisi finansialnya secara lebih jelas sehingga bisa mengambil keputusan yang lebih bijak di masa depan.
Berdasarkan SNLIK 2024 yang dilakukan OJK bersama BPS, tingkat inklusi keuangan pada kelompok usia 18–25 tahun telah mencapai 79,21 persen. Artinya, sebagian besar Gen Z sudah memiliki akses terhadap berbagai layanan dan produk keuangan. Namun, memiliki akses belum tentu diiringi kemampuan mengelola keuangan dengan baik.
Fakta Singkat literasi keuangan Gen Z versi OJK
BACA JUGA: 5 Cara dan Syarat Menukar Mata Uang di Money Changer
Situasinya ini tampak familier, tanggal 15 dan saldo sudah tipis. Kamu tahu pengeluaran ada, tapi tidak tahu persisnya kemana. Transfer sana-sini, belanja kecil-kecil yang tidak terasa, langganan aplikasi yang lupa dibatalkan. Semua itu nyata, tapi tidak pernah dicatat.
Riset Rodriguez, Labong, dan Palallos yang diterbitkan di Journal of Global Awareness (2024) menemukan bahwa literasi keuangan yang tinggi tidak otomatis berujung pada perilaku belanja yang sehat, kecuali ada perilaku keuangan aktif yang jadi jembatannya.
Artinya, tahu teori saja tidak cukup. Perlu kebiasaan konkret, salah satunya audit rutin.
Baca juga : Jakarta Dikuasai Anak Muda, Tapi Sebagian 'Putus Asa'
Ada tiga hal yang saling memperburuk satu sama lain,
Tidak perlu aplikasi khusus, cukup catatan sederhana dan satu jam waktu luang,
Buka mutasi rekening, riwayat e-wallet, dan tagihan kartu kredit bulan lalu. Jangan skip ini. Banyak pengeluaran tersembunyi di sini, dari langganan streaming yang lupa dibatalkan sampai transfer kecil yang tidak diingat.
Tidak ada angka sempurna, tapi ada patokan yang bisa dipakai. Formula 50-30-20 dari literatur personal finance cukup realistis: 50% untuk kebutuhan pokok, 30% untuk gaya hidup, 20% untuk tabungan dan cicilan. Kalau tabunganmu jauh di bawah 10%, itu sinyal yang perlu direspons.
Baca juga : Gaji 10 Juta Berasa Miskin? Bisa Cek 3 Pengeluaran Gaib Ini
Jangan langsung ubah semuanya. Pilih satu kebocoran terbesar dan tutup dulu. Misal: batalkan satu langganan yang tidak dipakai, atau batasi makan di luar jadi tiga kali seminggu. Perubahan kecil yang konsisten lebih bertahan lama dibanding resolusi besar yang tiga hari sudah lupa.
Baca juga : Rupiah Melemah, Ini Saran Keluar dari Tekanan Ekonomi
Lakukan hari ini, bukan besok, bukan awal bulan depan. Buka mutasi rekening bulan lalu sekarang dan luangkan 30 menit untuk mengelompokkan transaksinya. Tidak perlu sempurna di audit pertama. Yang penting kamu mulai punya gambaran.
Jadikan ini ritual Minggu pagi. Secangkir kopi, mutasi rekening, dan 30 menit fokus. Itu saja sudah cukup untuk mulai mengubah cara kamu mengelola uang.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 10 May 2026
Tulisan ini telah tayang di balinesia.id oleh Redaksi pada 13 Mei 2026
Bagikan