Krisis energi
Rabu, 08 April 2026 13:32 WIB
Penulis:Redaksi Daerah
Editor:Redaksi Daerah

JAKARTA - Kenaikan harga plastik belakangan ini mulai berdampak pada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Biaya kemasan yang ikut meningkat menjadi tekanan tersendiri bagi margin usaha, khususnya untuk bisnis makanan dan kebutuhan sehari-hari.
Untuk memahami penyebabnya, perlu ditelusuri dari sumber bahan bakunya. Plastik konvensional umumnya dibuat dari minyak bumi dan gas alam. Ketergantungan pada sumber energi tersebut membuat harga plastik sangat mudah terpengaruh oleh perubahan harga energi global serta gangguan pada rantai pasok.
BACA JUGA: Harga Plastik Dikhawatirkan Naik, Bolehkah Plastik Dipakai Ulang?
Plastik bukanlah bahan alami yang langsung diambil dari alam, melainkan hasil olahan panjang dari minyak bumi dan gas alam. Ketika harga minyak dunia naik, biaya produksi plastik otomatis ikut terdorong.
Kondisi ini menciptakan efek domino yang berdampak hingga ke tingkat UMKM. Kenaikan di sektor hulu akan merambat hingga ke harga kemasan yang digunakan pelaku usaha sehari-hari.
Perjalanan plastik dimulai dari proses ekstraksi di sektor hulu. Minyak mentah kemudian dimurnikan melalui distilasi untuk menghasilkan bahan turunan seperti nafta, yang menjadi dasar pembentukan plastik.
Selanjutnya, melalui proses kimia bernama polimerisasi, molekul kecil (monomer) disusun menjadi rantai panjang (polimer). Hasil akhirnya berupa biji plastik yang kemudian dicetak menjadi berbagai produk kemasan.
Biji plastik atau resin merupakan bentuk akhir dari proses kimia sebelum masuk ke industri manufaktur. Material ini kemudian dilelehkan dan dibentuk sesuai kebutuhan melalui berbagai teknik seperti injection molding dan ekstrusi.
Karena menjadi bahan dasar, harga biji plastik sangat menentukan harga produk akhir. Ketika harga resin naik, produsen kemasan akan menyesuaikan harga jual, yang akhirnya berdampak langsung ke UMKM.
Di pasaran, terdapat dua jenis utama biji plastik. Pertama adalah biji plastik original yang diproduksi langsung dari bahan fosil dengan kualitas lebih baik dan stabil.
Kedua adalah biji plastik daur ulang yang berasal dari limbah plastik bekas. Meski lebih ekonomis, kualitasnya bisa berbeda-beda tergantung proses pengolahan, sehingga penggunaannya perlu disesuaikan dengan kebutuhan produk.
Kenaikan harga plastik tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan akibat rantai panjang dari sektor energi hingga industri manufaktur. Ketergantungan pada minyak bumi membuat harga sulit dikendalikan di tingkat lokal.
Bagi UMKM, kondisi ini berdampak langsung pada biaya operasional. Kemasan yang sebelumnya murah kini menjadi salah satu komponen biaya terbesar, terutama untuk bisnis dengan volume produksi tinggi.
Sebagai solusi jangka panjang, bioplastik mulai dikembangkan untuk mengurangi ketergantungan pada bahan fosil. Material ini dibuat dari sumber terbarukan seperti pati dan minyak nabati.
Meski saat ini harganya masih lebih tinggi dibanding plastik konvensional, perkembangan teknologi dan peningkatan produksi diperkirakan akan membuat bioplastik semakin terjangkau di masa depan.
Kenaikan harga plastik pada dasarnya merupakan dampak dari struktur industri yang bergantung pada energi fosil. Selama ketergantungan ini masih tinggi, fluktuasi harga akan terus terjadi.
Bagi pelaku UMKM, memahami rantai produksi ini menjadi langkah awal untuk menyusun strategi. Baik dengan efisiensi penggunaan, beralih ke bahan alternatif, maupun mencoba inovasi kemasan baru yang lebih stabil dari sisi harga.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 02 Apr 2026
Tulisan ini telah tayang di balinesia.id oleh Redaksi pada 08 Apr 2026
Bagikan