Dhaup Ageng Gusti Sura dan Adimas Rosdian, Mangkunegaran Lestarikan Tradisi

Selasa, 03 November 2026 05:02 WIB

Penulis:Herlina

dhaup ageng 4.jpg
Rangkaian Dhaup Ageng Mangkunegaran berlangsung pada 3-7 November 2026, menghadirkan Kirab Pengantin pada 7 November dan Mangayubagyo Dhaup Ageng pada 6-8 November sebagai ruang bagi masyarakat untuk turut memberikan pangestu kepada kedua mempelai. (foto: istimewa)

SURAKARTA, LyfeBengkulu.com- Pura Mangkunegaran akan menyelenggarakan rangkaian Hajad Dalem Dhaup Ageng G.R.Aj. Ancillasura Marina Sudjiwo (Gusti Sura) dan K.P.H. F.X. Adimas Rosdian pada 3-7 November 2026. Perhelatan adat yang sarat makna ini menjadi momen penting bagi keluarga besar Mangkunegaran sekaligus wujud pelestarian tradisi pernikahan adat Jawa yang diwariskan lintas generasi.

Gusti Sura merupakan putri dalem K.G.P.A.A. Mangkoenagoro IX sekaligus kakak dari Pengageng Mangkunegaran, K.G.P.A.A. Mangkoenagoro X. Perjalanan Gusti Sura dan Adimas Rosdian menuju kehidupan rumah tangga akan diiringi berbagai prosesi adat Mangkunegaran yang mengandung doa, restu keluarga, serta nilai-nilai luhur yang menjadi pedoman kehidupan bersama.

Sebagai ungkapan rasa syukur, kebahagiaan dalam Dhaup Ageng Mangkunegaran juga akan dibagikan kepada masyarakat melalui Kirab Pengantin Mangkunegaran pada 7 November 2026 serta Mangayubagyo Dhaup Ageng yang berlangsung pada 6-8 November 2026 di Pamedan Pura Mangkunegaran. Kedua agenda tersebut menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk turut menyambut perjalanan baru kedua mempelai dan memberikan doa serta pangestu.

"Dhaup Ageng merupakan hajat keluarga yang menandai perjalanan baru dua insan dan dua keluarga. Setiap tata cara dijalankan sebagai wujud doa, restu, dan tanggung jawab untuk menjaga serta meneruskan nilai-nilai warisan leluhur. Kami berharap masyarakat dapat turut menyambut dan memberikan pangestu kepada kedua mempelai," ujar Juru Bicara Dhaup Ageng, R.Ay.T. Ayu Rosetyastuti.

Rangkaian Tradisi Dhaup Ageng Mangkunegaran 2026

Rangkaian prosesi Dhaup Ageng dimulai dengan Sengkeran pada 3 November 2026. Pada 4 November, keluarga akan melaksanakan prosesi Bleketepe dan Tuwuhan, Adang Sepisan, serta Nyantri. Selanjutnya, pada 5 November digelar prosesi Langkahan, Siraman, Dodol Dawet, dan Midodareni.

Puncak acara berlangsung pada 6 November melalui prosesi Dhaup Suci dan Panggih, yang kemudian dilanjutkan dengan Pahargyan di Pendapa Ageng. Pada 7 November, masyarakat dapat menyaksikan langsung Kirab Pengantin Mangkunegaran sebelum rangkaian Pahargyan kembali dilaksanakan.

Setiap prosesi mengandung makna mendalam yang berkaitan dengan restu keluarga, kesiapan lahir dan batin kedua mempelai, penerimaan dalam keluarga besar, serta tanggung jawab membangun rumah tangga. Seluruh rangkaian dijalankan bersama para abdi dalem, seniman, perajin, dan berbagai pihak yang berperan menjaga kelestarian tradisi Mangkunegaran.

Seni pertunjukan dan busana adat juga menjadi bagian penting dalam Dhaup Ageng. Tari klasik gaya Mangkunegaran dan alunan gamelan akan mengiringi sejumlah prosesi. Pada acara Panggih, kedua mempelai akan mengenakan Dodot Ageng Bango Buthak, sementara dalam Kirab Pengantin dan Pahargyan mereka akan menggunakan busana Kasatriyan, yang sarat simbol dan filosofi budaya Jawa.

Kirab Pengantin Mangkunegaran 7 November 2026

Salah satu agenda yang paling dinantikan masyarakat adalah Kirab Pengantin Mangkunegaran, yang akan berlangsung pada Sabtu, 7 November 2026 mulai pukul 16.00 WIB.

Kirab Pengantin merupakan bagian penting dalam tradisi Dhaup Ageng karena menjadi momen ketika kedua mempelai hadir di tengah masyarakat setelah menjalani rangkaian prosesi pernikahan adat. Dalam tradisi Mangkunegaran, kirab tidak hanya menjadi simbol kebahagiaan keluarga, tetapi juga mempererat hubungan antara keraton dan masyarakat.

Kirab akan diikuti oleh kedua mempelai bersama barisan bregada, unsur seni tradisional, serta iring-iringan yang menampilkan kekayaan budaya Mangkunegaran. Berbagai elemen dalam kirab, mulai dari busana, musik, hingga tata laku, merupakan warisan budaya yang terus dijaga dan diwariskan dari generasi ke generasi.

Informasi mengenai rute kirab dan pengaturan lalu lintas akan diumumkan melalui kanal resmi Mangkunegaran dan pihak berwenang. Masyarakat diharapkan mengikuti arahan petugas untuk menjaga keamanan, ketertiban, dan kekhidmatan acara.

Mangayubagyo Dhaup Ageng: Berbagi Kebahagiaan di Pura Mangkunegaran

Sebagai bagian dari rasa syukur keluarga, Mangayubagyo Dhaup Ageng 2026 akan berlangsung pada 6-8 November 2026 di Pamedan Pura Mangkunegaran dengan tema "Srawung Kabagyan", yang berarti perjumpaan untuk berbagi kebahagiaan.

Mengusung semangat "Sumambung ing Rasa, Nyawiji ing Pangestu", masyarakat diajak merayakan kebahagiaan bersama, menyampaikan ucapan selamat, serta memberikan doa dan harapan bagi kehidupan rumah tangga kedua mempelai.

Salah satu program utama dalam Mangayubagyo adalah Segahan Pahargyan Dhaup Ageng, yaitu jamuan yang dibagikan kepada masyarakat dari lima kecamatan di Kota Surakarta dan berbagai yayasan sosial, termasuk panti asuhan serta panti wreda. Sekitar 2.000 porsi jamuan disiapkan setiap hari dengan melibatkan pelaku UMKM lokal.

Selain itu, masyarakat juga dapat menikmati berbagai pertunjukan budaya, seperti persembahan seni dari lima kabupaten yang memiliki keterkaitan historis dengan Mangkunegaran, tarian Langenpraja, pagelaran Wayang Kulit dalam rangka Hari Wayang Nasional, hingga pertunjukan Eko Pece dan tim.

Pangestu masyarakat akan dihimpun melalui Buku Pangestu, Pohon Pangestu, dan Suwanten Pangestu, untuk kemudian disampaikan kepada kedua mempelai sebagai doa dan harapan bagi perjalanan rumah tangga mereka.

"Mangayubagyo menjadi ruang perjumpaan antara keluarga dan masyarakat dalam suasana syukur dan kebahagiaan. Setiap jamuan, kebersamaan, dan pangestu yang disampaikan menjadi bagian dari doa yang mengiringi perjalanan baru kedua mempelai," ujar R.Ay.T. Ayu Rosetyastuti.

Melalui rangkaian Dhaup Ageng Mangkunegaran 2026, tradisi tidak hanya dijaga sebagai warisan budaya, tetapi juga dihidupkan melalui kebersamaan, keramahan, dan partisipasi masyarakat. Perhelatan ini menegaskan bahwa budaya Mangkunegaran tetap relevan, tumbuh, dan terhubung dengan kehidupan masyarakat masa kini.