Karhutla Terus Mengancam Sumatera dan Kalimantan, Apa Penyebabnya?

Senin, 24 Agustus 2026 18:32 WIB

Penulis:Redaksi Daerah

Editor:Redaksi Daerah

Mengapa Sumatera dan Kalimantan Rentan Karhutla? Ini Penyebabnya
Mengapa Sumatera dan Kalimantan Rentan Karhutla? Ini Penyebabnya

JAKARTA - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan hanya persoalan yang muncul saat musim kemarau. Di beberapa daerah, khususnya Sumatera dan Kalimantan, karhutla kerap berulang setiap kali periode kering tiba. Titik api pun kembali muncul di sejumlah wilayah yang sama.

Kondisi tersebut kembali terjadi pada 2026. Hingga awal Agustus tahun ini, pemerintah mencatat area yang terdampak karhutla telah mencapai sekitar 107.000 hektare.

Upaya penanganan kemudian difokuskan pada sejumlah provinsi yang selama ini masuk dalam kategori rawan karhutla. Wilayah tersebut meliputi Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.

Kalimantan Barat menjadi salah satu wilayah dengan luasan kebakaran terbesar. Data BPBD Kalimantan Barat mencatat area yang terbakar mencapai 38.310,86 hektare sepanjang Januari hingga Agustus 2026. Ketapang, Kubu Raya, dan Mempawah menjadi beberapa daerah dengan luasan kebakaran signifikan.

Pertanyaannya kemudian, mengapa kebakaran terus berulang di Sumatera dan Kalimantan, bahkan cenderung muncul pada periode yang sama setiap tahun? Sementara Jawa, Sulawesi, dan Papua tidak selalu mengalami karhutla dalam skala yang sama?

BACA JUGA: Waspada! Ini Bahaya Menghirup Asap Akibat Kebakaran Hutan dan Polusi

Karhutla Bukan Sekadar Bencana Alam

Salah satu hal penting untuk memahami karhutla adalah membedakan antara pemicu kebakaran dan kondisi yang membuat api membesar.

Data pemerintah selama bertahun-tahun menunjukkan aktivitas manusia menjadi penyebab dominan karhutla. BNPB bahkan menyebut sekitar 99% kebakaran hutan dan lahan disebabkan faktor manusia, baik disengaja maupun akibat kelalaian. Pembukaan lahan dengan cara membakar menjadi salah satu aktivitas yang sering disebut sebagai pemicu.

Baca juga : Hotspot Kaltim 2026 Meluas, Lewati Era El Nino 2015

Artinya, musim kemarau tidak secara otomatis menciptakan api. Kemarau lebih tepat disebut sebagai kondisi yang membuat api yang sudah muncul menjadi jauh lebih mudah menyebar.

Pola tersebut menjelaskan mengapa karhutla dapat berulang dari tahun ke tahun. Aktivitas manusia di suatu kawasan dapat kembali terjadi ketika memasuki musim pembukaan atau persiapan lahan. Jika pada saat yang sama kondisi vegetasi dan tanah sedang kering, api kecil memiliki peluang jauh lebih besar berubah menjadi kebakaran luas.

Dengan kata lain, manusia menyediakan sumber api, sedangkan kondisi iklim dan karakteristik lahan menyediakan bahan bakarnya.

Mengapa Selalu Terjadi Saat Musim Kemarau?

Karhutla yang berulang pada waktu hampir sama bukan sebuah kebetulan. Indonesia memiliki pola musim yang relatif teratur, meskipun waktunya berbeda antarwilayah.

Pada 2026, BMKG memprediksi puncak musim kemarau terjadi pada Juli-September, dengan porsi wilayah terbesar mengalami puncak kemarau pada Agustus. BMKG juga memperkirakan sebagian besar wilayah mengalami musim kemarau yang lebih kering dan lebih panjang dibandingkan kondisi normal.

Ketika musim kemarau datang, kelembapan tanah dan vegetasi menurun. Daun, semak, rumput, sisa tanaman, dan material organik lainnya menjadi lebih mudah terbakar.

Kondisi semakin berisiko ketika tidak terjadi hujan selama berhari-hari atau berminggu-minggu. Dalam situasi tersebut, api yang berasal dari aktivitas pembukaan lahan, pembakaran sampah, puntung rokok, atau sumber lainnya menjadi jauh lebih sulit dikendalikan.

Itulah sebabnya pola karhutla sering terlihat seperti mengikuti kalender.

Bukan karena api memiliki jadwal, tetapi karena kondisi yang membuat api mudah menyala dan menyebar kembali datang pada periode yang relatif sama.

Faktor berikutnya adalah El Niño. Fenomena El Niño berkaitan dengan perubahan pola sirkulasi atmosfer dan suhu permukaan laut di Pasifik yang dapat mengurangi suplai hujan ke Indonesia. Ketika fenomena tersebut bertepatan dengan musim kemarau, kondisi kering dapat menjadi lebih ekstrem.

Baca juga : RI Pengin Jadi Price Maker SDA, Apa Itu Commodity Exchange?

Pada Juli 2026, BMKG mencatat kondisi El Niño berada pada intensitas kuat. Memasuki Agustus, BMKG menyebut El Niño telah mencapai intensitas sangat kuat dan berkontribusi terhadap berkurangnya pasokan uap air di sebagian besar wilayah Indonesia.

BMKG juga memprediksi El Niño dapat bertahan hingga awal kuartal I 2027, sementara puncak dampaknya terhadap Indonesia terjadi ketika fenomena tersebut bertepatan dengan periode kemarau.

Namun, penting untuk memahami bahwa El Niño bukan penyebab tunggal karhutla, El Niño tidak menyalakan api secara langsung. Fenomena tersebut menciptakan kondisi atmosfer yang lebih kering sehingga ketika terdapat sumber api, kebakaran lebih mudah berkembang.

Karena itu, ketika El Niño datang di wilayah yang sudah memiliki lahan terdegradasi, vegetasi kering, kanal drainase, dan aktivitas pembakaran, risikonya menjadi berlipat.

Mengapa Sumatera dan Kalimantan Sangat Rentan?

Salah satu jawaban terpenting berada di bawah permukaan tanah, gambut.

Sumatera dan Kalimantan memiliki bentang lahan gambut yang luas. Gambut terbentuk dari akumulasi material organik selama ribuan tahun dan dalam kondisi alami biasanya memiliki kandungan air sangat tinggi.

Dalam kondisi basah, gambut relatif sulit terbakar. Masalah muncul ketika sistem hidrologinya berubah. Pembukaan lahan dapat disertai pembangunan kanal atau saluran drainase yang menurunkan muka air gambut. Ketika gambut kehilangan air dan mengering, material organik yang sebelumnya basah berubah menjadi bahan bakar.

Kondisi ini membuat kebakaran di gambut berbeda dengan kebakaran vegetasi biasa. Api dapat merambat di bawah permukaan tanah, mengikuti lapisan material organik yang kering. Akibatnya, meskipun api di permukaan terlihat sudah padam, bara di bawah tanah masih dapat bertahan dan kembali muncul.

Karakter inilah yang membuat kebakaran di kawasan gambut sulit dikendalikan dan berpotensi menghasilkan asap dalam jumlah besar.

Baca juga : Emas Tanpa Surat Bisa Dijual? Ini Perbedaan Antam, UBS, dan Galeri24

Mengapa Jawa, Sulawesi, dan Papua Tidak Mengalami Karhutla Besar?

Pada 2026, kebakaran terjadi di kawasan Gunung Bromo dan Gunung Gede Pangrango. Artinya, Jawa tetap memiliki risiko karhutla, terutama di kawasan hutan, pegunungan, dan lahan yang mengalami kekeringan.

Namun karakter kebakarannya dapat berbeda dengan episentrum karhutla di Sumatera dan Kalimantan.

Jawa memiliki kepadatan penduduk dan intensitas penggunaan lahan yang sangat tinggi. Banyak wilayah telah lama menjadi kawasan permukiman, pertanian, perkotaan, dan infrastruktur. Hutan yang tersisa juga banyak berada pada kawasan dengan akses dan pengelolaan yang berbeda.

Selain itu, karakter lahan di Jawa tidak didominasi bentang gambut luas seperti sejumlah wilayah rawan di Sumatera dan Kalimantan.

Karena itu, ketika kebakaran terjadi di Jawa, kebakaran dapat lebih sering muncul sebagai kebakaran vegetasi atau kawasan hutan tertentu, bukan selalu menjadi kebakaran gambut luas yang menghasilkan asap pekat dan bertahan lama.

Sulawesi juga tidak sepenuhnya aman dari karhutla. Perbedaannya terletak pada kombinasi luas gambut, tata guna lahan, kondisi hidrologi, dan pola musim di masing-masing wilayah.

Kebakaran dapat terjadi di Sulawesi ketika kemarau panjang membuat vegetasi mengering. Aktivitas pertanian, pembukaan lahan, dan kelalaian manusia juga tetap dapat menjadi sumber api.

Namun, tidak semua kebakaran tersebut berkembang menjadi episode karhutla berskala besar seperti yang sering terjadi di kawasan gambut Sumatera dan Kalimantan.

Dengan demikian, mengatakan Sulawesi "tidak mengalami karhutla" akan terlalu sederhana. Yang berbeda adalah frekuensi, lokasi, skala, dan kemampuan api untuk berkembang menjadi kebakaran besar.

Baca juga : Menyibak Penguasa Bisnis Bank Digital di Indonesia

Sementara itu, Papua memiliki kawasan hutan yang sangat luas dan juga memiliki ekosistem gambut. Dalam kondisi tertentu, wilayah Papua dapat mengalami kebakaran cukup besar.

Namun, sebagian kawasan Papua masih memiliki ekosistem alami yang relatif luas dan kondisi hidrologis yang berbeda. Tekanan pembukaan lahan juga tidak seragam di seluruh Papua.

Artinya, risiko karhutla sangat bergantung pada kombinasi manusia, iklim, tutupan lahan, dan kondisi ekosistem setempat.

Karena itu, yang perlu dibandingkan bukan hanya jumlah titik api, tetapi juga jenis lahan yang terbakar, luas kawasan, kondisi kelembapan, akses pemadaman, dan bagaimana api berkembang.

Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 24 Aug 2026 

Tulisan ini telah tayang di balinesia.id oleh Redaksi pada 24 Agt 2026