Investasi
Kamis, 05 Februari 2026 13:10 WIB
Penulis:Redaksi Daerah
Editor:Redaksi Daerah

JAKARTA – Investor kawakan Lo Kheng Hong menilai koreksi tajam Indeks Harga Saham Gabungan belakangan ini sebagai momentum emas bagi investor muda. Penurunan indeks yang signifikan justru membuka peluang langka untuk mendapatkan saham perusahaan fundamental bagus dengan harga yang sangat murah.
Ia mengibaratkan kondisi pasar saham yang sedang tertekan hebat ini layaknya hujan emas yang sedang turun di Bursa Efek Indonesia. Oleh karena itu, investor disarankan tidak perlu panik berlebihan melainkan harus berani mengambil posisi beli secara bertahap pada momentum saat ini.
Pernyataan ini merespons kejatuhan IHSG akibat sentimen pembekuan status pasar Indonesia oleh lembaga indeks global MSCI dalam sepekan terakhir. Lo Kheng Hong sendiri mengaku memanfaatkan momen koreksi dalam ini untuk menambah kepemilikan sahamnya, terutama di sektor perbankan papan atas nasional.
Dalam pesan singkatnya Lo Kheng Hong memberikan analogi menarik yang sangat relevan bagi pola pikir investor muda atau Gen Z. Ia menegaskan, "IHSG yang turun banyak seperti sedang turun hujan emas, investor harus menyiapkan ember besar untuk menampung hujan emas itu," jelasny pada Lo dikutip TrenAsia.Id pada Kamis, 5 Februari 2026.
Filosofi ini mengajarkan investor untuk memiliki mentalitas kontrarian yakni berani membeli ketika mayoritas pelaku pasar sedang takut dan menjual sahamnya. Koreksi pasar dianggap sebagai diskon besar-besaran yang seharusnya dimanfaatkan untuk mengakumulasi aset produktif demi keuntungan jangka panjang di masa depan.
Lo Kheng Hong membuktikan ucapannya dengan tetap agresif berbelanja saham-saham unggulan yang valuasinya menjadi sangat atraktif akibat tekanan jual pasar. "Tentu banyak yang dibeli, ada bank besar," ujarnya memberikan sinyal mengenai sektor yang menjadi incaran utamanya di tengah badai koreksi ini.
Sentimen utama yang memicu gejolak pasar adalah keputusan MSCI untuk membekukan sementara perubahan indeks saham Indonesia pada tinjauan Februari 2026. Kebijakan freeze ini menutup peluang masuknya saham baru atau penambahan bobot yang biasanya memicu aliran dana asing masuk ke pasar domestik.
MSCI menyatakan tidak akan menerapkan perubahan pada faktor inklusi asing maupun jumlah saham beredar untuk konstituen indeks Indonesia saat ini. Selain itu, migrasi saham dari kategori kapitalisasi kecil menuju indeks standar juga ditiadakan sementara waktu hingga ada tinjauan lebih lanjut.
Langkah preventif ini diambil oleh lembaga indeks tersebut untuk mengurangi risiko perputaran indeks yang berlebihan di pasar modal Indonesia. MSCI menilai perlu memberikan waktu bagi otoritas terkait untuk meningkatkan transparansi pasar agar sesuai dengan standar investasi global yang mereka tetapkan.
Keputusan mengejutkan tersebut memicu reaksi negatif berantai dari lembaga keuangan internasional seperti Goldman Sachs, UBS, dan Nomura yang memangkas peringkat Indonesia. Langkah ini membuat investor asing merespons dengan aksi jual masif untuk mengamankan portofolio mereka dari ketidakpastian regulasi indeks global tersebut.
Data perdagangan mencatat investor asing melakukan penjualan bersih atau net sell mencapai Rp13,92 triliun hanya dalam waktu satu pekan perdagangan saja. Angka ini melonjak sangat tajam dibandingkan nilai penjualan bersih asing pada pekan sebelumnya yang hanya tercatat sebesar Rp3,25 triliun.
Derasnya arus modal keluar atau capital outflow ini menunjukkan tingginya tingkat kecemasan investor global terhadap prospek jangka pendek pasar Indonesia. Namun bagi investor lokal yang jeli, kondisi oversold atau jenuh jual ini seringkali menjadi titik masuk terbaik untuk berinvestasi.
Akibat tekanan jual yang masif tersebut, IHSG tercatat anjlok hingga 6,94% selama periode perdagangan tanggal 26 hingga 30 Januari 2026. Indeks acuan pasar saham domestik ini harus rela ditutup merosot ke level 8.329,60 setelah sebelumnya sempat menyentuh level tertingginya pekan lalu.
Penurunan ini juga menggerus nilai kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia sebesar 7,37% menjadi Rp15.046 triliun dari posisi sebelumnya Rp16.244 triliun. Hilangnya nilai pasar ribuan triliun rupiah ini mencerminkan betapa besarnya dampak sentimen eksternal terhadap valuasi perusahaan-perusahaan tercatat di dalam negeri.
Meskipun indeks terkoreksi dalam, rata-rata nilai transaksi harian justru mengalami lonjakan signifikan sebesar 29,28% menjadi Rp43,76 triliun per hari. Hal ini mengindikasikan adanya pertarungan likuiditas yang kuat antara pihak yang melakukan panic selling dan investor yang melakukan penampungan di harga bawah.
Bagi investor Gen Z yang memiliki cakrawala investasi jangka panjang, situasi ini adalah waktu yang tepat untuk mulai belajar strategi value investing. Lo Kheng Hong menyarankan agar fokus mencari perusahaan dengan tata kelola baik yang harganya sedang "salah" akibat kepanikan pasar.
Strategi "membeli saat berdarah-darah" memang membutuhkan keberanian mental dan kesiapan dana tunai yang memadai atau cash is king. Namun sejarah pasar modal membuktikan bahwa keuntungan terbesar seringkali diraih oleh mereka yang berani masuk saat pasar sedang dihujani sentimen negatif yang bersifat sementara.
Oleh karena itu generasi muda disarankan untuk tidak ikut larut dalam kepanikan pasar melainkan melihat data fundamental perusahaan secara objektif. Dengan "ember besar" berupa kesiapan modal dan mental, koreksi pasar saat ini dapat menjadi landasan kekayaan finansial di masa mendatang.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Alvin Bagaskara pada 05 Feb 2026
Tulisan ini telah tayang di balinesia.id oleh Redaksi pada 05 Feb 2026
Bagikan