Jumat, 29 Mei 2026 19:12 WIB
Penulis:Herlina
Editor:Herlina

BALI, LyfeBengkulu.com- Di balik perairan pesisir Indonesia, hidup salah satu mamalia laut yang masih jarang dikenal masyarakat, yaitu dugong (Dugong dugon), hewan pemakan lamun yang kerap dikenal sebagai duyung, sea cow atau sapi laut. Meski memiliki peran penting bagi ekosistem laut, dugong masih kalah populer dibandingkan paus, penyu, atau pari manta, sehingga menjadikannya salah satu spesies yang kerap luput dari perhatian dalam upaya konservasi laut.
Hari Dugong Sedunia diperingati setiap 28 Mei untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya melindungi dugong dan ekosistem lamun sebagai habitat utamanya. Sebagai salah satu negara dengan populasi dugong dan padang lamun terbesar, Indonesia memegang peran penting dalam menjaga kelestarian spesies dan ekosistem pesisir tersebut.
Dugong sepenuhnya bergantung pada ekosistem lamun untuk bertahan hidup. Perilaku makannya membantu menjaga kesehatan padang lamun, ekosistem penting yang mendukung perikanan, menyimpan karbon biru (blue carbon), serta memperkuat ketahanan wilayah pesisir. Namun, keberadaan dugong menghadapi berbagai ancaman yang terus meningkat, mulai dari degradasi habitat, pembangunan pesisir, keterjeratan tidak sengaja pada alat tangkap perikanan, pencemaran laut, hingga menurunnya kualitas habitat lamun. Tantangan ini diperparah oleh siklus reproduksi dugong yang lambat. Dugong betina umumnya hanya melahirkan satu anak dalam rentang waktu yang cukup panjang, sehingga pemulihan populasi menjadi sulit ketika jumlahnya menurun. Di sisi lain, ekosistem lamun masih kerap kurang mendapat perhatian dibandingkan terumbu karang dan mangrove, meskipun memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga kesehatan ekosistem pesisir dan laut.
Executive Director Coral Triangle Center (CTC), Rili Djohani menyampaikan bahwa Indonesia telah mengambil langkah penting untuk melindungi dugong melalui berbagai regulasi nasional, termasuk Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Dugong yang diperkenalkan pada tahun 2009, namun, upaya konservasi tidak bisa hanya mengandalkan kebijakan. “Keterbatasan sumber daya dan kapasitas masih menjadi tantangan dalam memperkuat perlindungan di lapangan. Melalui Kalesang Dugong Project di Kawasan Konservasi Perairan Kepulauan Lease, Maluku, kami berupaya mendukung prioritas tersebut dengan memperkuat partisipasi masyarakat serta perlindungan dugong dan habitatnya,” terangnya.
Guna mendorong peningkatan kapasitas dan kesadaran masyarakat akan dugong, CTC menyelenggarakan webinar publik bertajuk “Dugong Spotlight: Protecting Lease Islands’ Gentle Giants” pada 28 Mei 2026 yang dihadiri lebih dari 50 peserta, mulai dari praktisi konservasi laut, tenaga pendidik, mahasiswa, mitra organisasi non-pemerintah, hingga masyarakat umum yang memiliki perhatian terhadap isu kelautan. Webinar ini mengulas ekologi dugong, tantangan konservasi yang dihadapi, serta berbagai upaya perlindungan dugong dan ekosistem lamun melalui Kalesang Dugong Project.
Project ini berfokus pada pelibatan masyarakat, citizen science, pemantauan habitat, serta peningkatan kesadaran konservasi. Melalui survei dan pendekatan citizen science, masyarakat turut berkontribusi dalam mengidentifikasi habitat dugong, mendokumentasikan area mencari makan, mencatat 54 kali perjumpaan dugong, serta mengidentifikasi delapan spesies lamun yang membantu meningkatkan pemahaman mengenai kondisi ekosistem dan berbagai ancaman yang dihadapi.
Salah satu nelayan dan menjadi champion yang terlibat aktif dalam program citizen science Kalesang Dugong di Kepulauan Lease, Vicky Mayauth, berbagi bahwa dahulu banyak masyarakat hanya mengenal dugong sebagai ikan duyung yang dapat dimakan dan belum memahami pentingnya spesies ini bagi ekosistem laut. “Kini, berkat berbagai kegiatan sosialisasi langsung, melalui poster, dan billboard atau baliho besar yang dipasang di kantor camat maupun ruang-ruang publik lainnya, masyarakat memiliki pemahaman yang jauh lebih baik mengenai dugong dan pentingnya melindungi satwa ini. Masyarakat juga semakin memahami area-area yang menjadi habitat dugong dan lebih berhati-hati agar tidak mengganggu keberadaannya,” ucapnya.
Selain memberikan dampak ekologis, program ini juga berhasil mengubah perspektif masyarakat. Komunitas yang sebelumnya menganggap dugong sebagai gangguan akibat interaksi tidak sengaja dengan alat tangkap kini semakin memahami bahwa spesies ini merupakan bagian penting dari ekosistem laut yang sehat. Para nelayan mulai menyesuaikan praktik penangkapan ikan dengan menghindari area makan dugong, sementara regulasi lokal dan berbagai upaya konservasi berbasis masyarakat turut memperkuat perlindungan spesies ini. Program ini juga mencatat peningkatan pengetahuan masyarakat sebesar 21% terkait dugong dan 18% terkait ekosistem lamun, sekaligus memperkuat kolaborasi antara masyarakat, pemerintah daerah, dan para pemangku kepentingan konservasi.
“Salah satu pencapaian terpenting dari Kalesang Dugong Project adalah melihat masyarakat mengambil peran aktif dan merasa memiliki upaya perlindungan dugong,” ujar CTC Maluku Portfolio Manager, Purwanto. “Selain meningkatkan pengetahuan dan kesadaran, program ini juga berhasil memperkuat perlindungan berbasis masyarakat melalui peraturan desa. Di Desa Mahu, misalnya, pemerintah desa telah mengesahkan perlindungan dugong dan pengelolaan sampah melalui Peraturan Negeri Nomor 3 Tahun 2023 tentang Perlindungan Sumber Daya Alam. Hal ini menunjukkan bahwa upaya konservasi dapat menjadi lebih berkelanjutan ketika masyarakat sendiri memimpin dan menggerakkannya,” jelasnya.
Untuk mendukung keberlanjutan upaya tersebut, CTC menghadirkan Adopt-A-Dugong, sebuah inisiatif partisipasi publik yang mendukung perlindungan dugong dan ekosistem lamun di Maluku secara berkelanjutan.
Melanjutkan inisiatif Adopt-A-Coral dan Adopt-A-Mangrove yang sebelumnya telah dijalankan Coral Triangle Center, Adopt-A-Dugong bertujuan memperkuat partisipasi masyarakat dalam konservasi laut sekaligus mendukung berbagai kegiatan seperti citizen science, program edukasi dan peningkatan kesadaran publik, perlindungan habitat, serta berbagai aksi konservasi jangka panjang melalui Kalesang Dugong Project.
Program ini menghadirkan dua karakter dugong yang dapat diadopsi secara simbolis. Masyarakat yang berpartisipasi akan memperoleh sertifikat adopsi, pembaruan tahunan mengenai perkembangan program konservasi, materi edukasi, serta laporan dampak konservasi yang mendokumentasikan hasil pemantauan dugong, kegiatan edukasi, dan berbagai capaian bersama masyarakat.
Melalui Adopt-A-Dugong, CTC berharap dapat mendorong partisipasi masyarakat yang lebih luas dalam upaya perlindungan dugong dan ekosistem lamun. Sebagai indikator kesehatan padang lamun, keberadaan dugong mengingatkan kita bahwa pelestarian keanekaragaman hayati laut berjalan beriringan dengan upaya menjaga ekosistem pesisir yang menjadi penopang kehidupan masyarakat.
Bagikan