Psikolog Ungkap 3 Alasan Orang Tak Bisa Berhenti Oversharing

Kamis, 26 Februari 2026 10:53 WIB

Penulis:Redaksi Daerah

Editor:Redaksi Daerah

3 Alasan Seseorang Oversharing di Medsos Menurut Psikolog
3 Alasan Seseorang Oversharing di Medsos Menurut Psikolog (freepik.com)

JAKARTA — Beberapa waktu heboh soal seorang influencer alumni peraih beasiswa LPDP yang dinilai oversharing di media sosial saat menceritakan soal anaknya yang kini memiliki paspor Inggris. Pernyataannya langsung ramai hingga memicu kecaman dari publik. Oversharing yang ia lakukan langsung memicu banyak bola liar dari netizen hingga konsekuensi yang harus ia tanggung.

Terlepas dari hal itu, oversharing adalah kebiasaan membagikan terlalu banyak informasi pribadi. Hal ini bisa terjadi baik secara online seperti di media sosial, ataupun offline saat bertemu langsung.

Akan tetapi, kebiasaan oversharing ini seringkali diiringi dengan membagi informasi yang tidak pantas untuk dibagikan dalam situasi tertentu. Hal itulah yang membuat banyak orang yang mendengarnya jadi merasa tidak nyaman atau canggung.

Tidak jarang, orang yang melakukan oversharing kadang menyesal telah melakukannya.

BACA JUGA: 4 Artis yang Raih Beasiswa LPDP, Ini Kampusnya!

Ternyata ada beberapa alasan seseorang melakukan oversharing dapat membantu meningkatkan kesehatan mental dan mengurangi dampaknya pada orang lain. Dengan memahami hal tersebut, kita bisa menjaga hubungan pertemanan atau keluarga yang berharga.

Inilah beberapa alasan mengapa sebagian orang sering melakukan oversharing di media sosial berdasarkan penelitian psikologi, seperti yang dilansir dari Forbes seperti berikut.

Alasan Seseorang Suka Oversharing di Media Sosial

Alasan Seseorang Suka Oversharing di Media Sosial

1. Efek Privacy Calculus

Alasan Seseorang Suka Oversharing di Media Sosial: Efek Privacy Calculus

Menurut konsep privacy calculus effect, seseorang biasanya akan menimbang risiko privasi dan manfaat yang akan diperoleh sebelum membagikan informasi pribadi.

Namun, studi pada 2015 menemukan bahwa pengguna media sosial justru lebih fokus pada manfaat dari oversharing daripada risikonya, seperti memicu penipuan, berkurangnya peluang kerja, hingga rusaknya reputasi.

Manfaat yang dirasakan akan diraih seperti membangun dan menjaga dukungan dengan sesama pengguna media sosial, menciptakan kedekatan, dan mendapat validasi dari orang lain.

Membicarakan diri sendiri memang terasa menyenangkan, karena otak yang berkaitan dengan reward akan aktif. Selain itu, adanya media sosial memudahkan seseorang untuk berbagi pengalaman pribadi tersebut.

BACA JUGA: 5 Kalimat yang Sering Diucapkan Orang Kaya Menurut Psikologi

2. Sebagai Solusi untuk Menghadapi Tekanan Emosional

Alasan Seseorang Suka Oversharing di Media Sosial: Sebagai Solusi untuk Menghadapi Tekanan Emosional

Penelitian juga menyebutkan bahwa tindakan oversharing di media sosial berhubungan dengan kecemasan, ingin mendapat perhatian, dan kecanduan dengan media sosial.

Tidak dapat dipungkiri, sekarang memang banyak orang yang menggunakan medsos sebagai platform untuk mengatasi rasa kesepian atau mencari teman ketika kesulitan membangun hubungan di dunia nyata.

Media sosial memang bisa menjadi sarana untuk mendapatkan dukungan. Namun, jika dilakukan secara berlebihan, oversharing justru dapat menimbulkan ilusi kedekatan. Akibatnya, seseorang bisa merasa memiliki hubungan yang bermakna lewat media sosial, padahal hubungan tersebut sebenarnya bersifat dangkal.

BACA JUGA: Mahal tapi Tetap Diburu? Ternyata Ini 8 Alasan Psikologis di Balik Pembelian Barang Mewah

3. Efek Lepas Kendali di Dunia Online

Alasan Seseorang Suka Oversharing di Media Sosial: Efek Lepas Kendali di Dunia Online

Berbagi dari balik layar dan tidak langsung bertemu dengan seseorang mungkin terasa lebih aman dilakukan. Hal ini dapat menurunkan rasa sungkan dan membuat seseorang jadi lebih mudah melakukan oversharing.

Di tahun 2004, fenomena ini disebut sebagai online disinhibiton effect. Karena di media sosial relatif anonim, atau tidak banyak orang yang mengenal kita di real life, seseorang merasa tindakannya di dunia online terpisah dari identitas aslinya.

Selain itu, di banyak platform online apalagi yang berbasis teks, orang-orang tidak bisa saling melihat orang di balik akun tersebut. Rasa tidak terlihat inilah yang memberikan keberanian untuk mengatakan hal-hal yang mungkin akan ditahan jika bertatap muka.

BACA JUGA: Hobi Pamer Mobil di Medsos? Hati-hati Diintip Pajak Mulai 2026

Itu tadi beberapa alasan mengapa seseorang cenderung suka oversharing atau membagikan informasi berlebihan di media sosial.

Tulisan ini telah tayang di balinesia.id oleh pada 26 Feb 2026