Kenapa Banyak Orang Borong Emas Sebelum Lebaran?
JAKARTA - Bagi banyak masyarakat Indonesia, Ramadan dan Idulfitri tidak hanya dimaknai sebagai waktu untuk beribadah dan berkumpul dengan keluarga di kampung halaman. Ada pula fenomena menarik yang hampir selalu terjadi setiap tahun, yaitu meningkatnya kunjungan masyarakat ke toko emas.
Hal ini bukan tanpa sebab. Pada periode tersebut, kondisi keuangan sebagian orang biasanya lebih longgar karena menerima Tunjangan Hari Raya (THR). Tambahan dana ini membuat daya beli meningkat dan mendorong banyak orang memanfaatkannya untuk membeli emas. Lonjakan likuiditas dalam waktu singkat tersebut pun turut mengubah pola pengeluaran rumah tangga selama momen Lebaran.
BACA JUGA: 5 Hal yang Harus Diperhatikan Saat Investasi Perhiasan
Efek THR dan "Self-Reward" yang Cerdas
Shaokai Fan, Head of Asia-Pacific di World Gold Council (WGC), menjelaskan bahwa dinamika ini sangat dipengaruhi oleh tambahan pendapatan musiman. Menurutnya, saat dana segar seperti THR mendarat di rekening, banyak orang yang memilih mengamankannya ke dalam aset yang tahan banting.
"Saat mendapatkan tambahan pendapatan musiman seperti THR, sebagian masyarakat mengalokasikannya ke aset yang dinilai mampu melindungi nilai jangka panjang, termasuk emas," ungkap Shaokai dalam keterangannya, dikutip Kamis, 12 Maret 2026.
Jadi, alih-alih habis untuk konsumsi semata, emas dianggap sebagai cara "mengunci" uang agar tidak sekadar numpang lewat.
Meski belinya pas musim Lebaran, ternyata investor Indonesia bukan tipe flipper atau pencari cuan instan. Data dari WGC mengungkapkan fakta menarik bahwa rata-rata, investor Indonesia menyimpan emas fisik (batangan, koin, atau perhiasan) selama kurang lebih enam tahun.
Kemudian, emas berada di urutan kedua sebagai aset investasi paling diminati di Tanah Air. Sekitar 67% investor di Indonesia tercatat memiliki emas dalam berbagai bentuk. Ini membuktikan bahwa bagi orang Indonesia, emas adalah "pelindung nilai" yang sesungguhnya, bukan sekadar barang buat gaya-gayaan saat kumpul keluarga.
Antara Tradisi dan Strategi Finansial
Menariknya, Indonesia tidak sendirian. Fenomena ini mirip dengan tradisi di belahan dunia lain seperti di China di mana permintaan emas melonjak saat Tahun Baru Imlek sebagai simbol keberuntungan. Di India, emas menjadi primadona saat musim pernikahan sebagai bagian dari perencanaan keuangan keluarga.
Di Indonesia, faktor budaya sangat kental. Emas sering dibeli sebagai hadiah (hampers mewah) atau simbol kemakmuran saat Idul Fitri. Produsen pun jeli melihat peluang ini dengan merilis edisi khusus bertema Ramadan yang estetik, membuat emas semakin sulit ditolak sebagai kado spesial.
Di tengah fluktuasi ekonomi dan tekanan daya beli, emas tetap menjadi "pelabuhan aman" bagi portofolio rumah tangga. Keputusan masyarakat untuk membeli emas saat Ramadan bukan cuma soal ikut-ikutan tren, tapi merupakan langkah strategis untuk menjaga stabilitas kekayaan di masa depan.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Ananda Astri Dianka pada 13 Mar 2026
Tulisan ini telah tayang di balinesia.id oleh Redaksi pada 13 Mar 2026
