Lagi Hits! Butter Tteok Jadi Dessert Korea Favorit

Redaksi Daerah - Senin, 20 April 2026 15:07 WIB
Kenali Butter Tteok, Dessert Korea yang Kini Lagi Jadi Tren (Korea JoongAng Daily)

JAKARTA — Setelah tren Dubai Chewy Cookie atau Dujjonku, beberapa waktu belakangan media sosial diramaikan dengan berbagai food vlogger yang membahas dan mengulas dessert Korea yang sekarang sedang tren di Indonesia, yaitu Butter Tteok atau kue beras.

Dilansir dari Korea JoongAng Daily, Butter Tteok adalah suatu dessert atau snack manis yang terbuat dari tepung beras ketan, susu, dan mentega yang sebetulnya berasal dari Shanghai.

Meski kudapan ini disebut sebagai ‘tteok’ atau kue beras, sebetulnya Butter Tteok atau Shanghai Butter Rice Cake ini justru lebih mirip perpaduan antara butter cake dan mochi daripada kue beras tradisional.

BACA JUGA: Apa Itu Dubai Chewy Cookie yang Lagi Viral?

Dilansir dari Maeil Business, dessert ini dibuat bukan dari tepung terigu seperti dessert pada umumnya, melainkan tepung beras atau tepung ketan. Setelah itu, tepung tersebut akan dicampur dengan mentega, susu, gula, dan telur.

Adonan tersebut akan dipanggang sampai menghasilkan kudapan yang memiliki tekstur luar yang renyah, tapi tetap kenyal di bagian dalam.

Dilansir dari Maeil Business, Butter Tteok tersebut ternyata dinamai sebagai ‘Shanghai Butter Rice Cake’. Banyak yang menilai nama tersebut hanya sebagai strategi pemasaran oleh kafe di Korea, karena pada umumnya saat menambahkan istilah ‘asal luar negeri’ akan terkesan lebih menarik, contohnya seperti Dubai Chewy Cookie yang tren sebelumnya.

BACA JUGA: Bahaya Gula Berlebih Mengintai di Balik Tren Kedai Kopi

Tren Dessert Berganti Cukup Cepat di Korea

Tren Dessert Seperti Butter Tteok dan Dubai Chewy Cookie Berganti Cukup Cepat di Korea Selatan

Bagi kita di Indonesia, mungkin sedang tren Butter Tteok ini, bahkan banyak orang yang sedang mencarinya karena penasaran dengan cita rasanya.

Dilansir dari Korea JoongAng Daily, seorang pemilik kafe dessert, Kim, di Distrik Seodaemun, Seoul bagian barat mengatakan bahwa tren dessert saat ini berubah terlalu cepat, bahkan ia sampai sulit menentukan berapa banyak dessert yang harus diproduksi setiap hari.

Kim mengakui bahwa ia baru saja mulai menjual Butter Tteok yang sedang viral tapi prospeknya sudah terasa tidak pasti. Meski Butter Tteok baru dijual sekitar dua minggu, permintaan harian yang sebelumnya bisa mencapai 200 buah saat sedang di puncak tren, kini sudah turun sampai setengahnya.

Ia juga merasakan naik turunnya tren ini saat viral Dubay Chewy Cookie. Ketika kue chewy ala Dubai tersebut sedang booming, harga selai pistachio yang menjadi bahan pembuatnya naik sampai 1,7 juta won untuk 10 kilogram.

Kim bahkan harus berburu bahan tersebut hanya untuk bisa bertahan. Akan tetapi, Kim merasa sekarang permintaan Dubai Chewy Cookie dan Butter Tteok sama-sama menurun. Tren yang berubah terlalu cepat ini akan menyulitkan pemilik usaha untuk mengelola stok.

BACA JUGA: Lagi Tren, Ini yang Akan Terjadi pada Gula Darah Saat Anda Makan Bagel

Pengaruh Naik Turunnya Tren Dessert pada Pemilik Usaha

Pengaruh Naik Turunnya Tren Dessert Seperti Butter Tteok pada Pemilik Usaha

Dilansir dari Korea JoongAng Daily, Starbucks Korea bahkan telah menghentikan penjualan Dubai chewy roll setelah diluncurkan 30 Januari lalu, hanya dalam waktu kurang dari dua bulan. Padahal, produk ini sempat sangat populer bahkan pelanggan sampai rela antre sebelum toko buka.

Pemilik usaha Paris Baguette juga mengalami hal serupa. Dessert Dubai-style chewy tart yang dirilis 23 Januari yang sempat sering habis di pagi hari kini antusiasmenya mulai menurun.

Bagi pelaku usaha kecil tentu perubahan tren dessert akan terasa lebih berat. Siklus tren dessert yang semakin singkat juga akan membuat permintaan jadi sulit diprediksi, sementara mereka harus menanggung risiko stok berlebih dan biaya operasional yang meningkat.

Selain itu, pemilik kafe seperti Hwang di Ansan juga merasakan bahwa seolah-olah mau tak mau ia harus ikut tren dessert ini untuk mempertahankan pelanggan.

“Cookie Dubai dan Butter Tteok sebenarnya bukan menu utama saya, tapi kalau tidak ikut tren media sosial, pelanggan bisa berkurang,” kata Hwang, seperti yang dikutip dari Korea JoongAng Daily.

BACA JUGA: Blind Box Glitter Dumplings Jadi Tren di TikTok, Pengganti Labubu?

Risiko Pelaku Usaha Kecil Jika Terlalu Mengikuti Tren Dessert

Menurut Profesor Heo Gyung-ok dari Sungshin Women’s University, ia menilai bahwa dessert biasanya dianggap sebagai makanan ringan setelah makan, jadi lebih mudah dicoba dan seharusnya harganya tidak terlalu mahal.

Tidak mengherankan jika tren dessert ini menyebar sangat cepat, tapi siklus trennya jadi pendek sekali. Seperti yang terjadi pada tanghulu, jika pelaku usaha tidak cepat menyesuaikan, mereka akan mengalami kerugian karena stok menumpuk.

Selain itu, sebagian analis menilai cepatnya tren ini naik dipicu oleh fenomena fear of missing out (FOMO) terutama di media sosial. Dessert tertentu sering dibesar-besarkan di media sosial, sehingga terlihat jauh lebih viral dari kenyataannya.

Oleh karena itu, bagi pelaku usaha kecil, akan sangat berisiko jika sangat bergantung dan mengikuti tren. Mereka tetap perlu fokus pada bisnis inti sambil menyesuaikan tren secara hati-hati.

BACA JUGA: Lagi Tren, Ini Bahaya Makan Roti Sourdough Berlebihan

Itu tadi penjelasan tentang Butter Tteok yang kini sedang jadi dessert tren atau viral di Indonesia. Apakah Anda tertarik untuk mencobanya?

Tulisan ini telah tayang di balinesia.id oleh pada 20 Apr 2026

Editor: Redaksi Daerah

RELATED NEWS