Ancaman Trump Meluas, Ini 5 Negara Setelah Venezuela

Redaksi Daerah - Rabu, 07 Januari 2026 21:29 WIB
5 Negara Ini Terancam jadi Target Trump Usai Venezuela

JAKARTA - Presiden Amerika Serikat Donald J. Trump kembali menuai sorotan internasional usai melancarkan operasi militer skala besar di Venezuela yang berakhir dengan penahanan Presiden Nicolás Maduro.

Melalui sejumlah pernyataan kepada awak media di pesawat kepresidenan maupun media global, Trump melontarkan kritik terhadap beberapa pemerintahan asing dan memberi sinyal kemungkinan langkah lanjutan, mulai dari tekanan ekonomi dan diplomasi hingga opsi militer terhadap negara lain.

Dikutip berbagai sumber, Rabu, 7 Januari 2026, berikut sederet negara yang diancam oleh Trump untuk dilakukan intervensi.

Negara yang Diancam oleh Trump untuk Dilakukan Intervensi

1. Kolombia: “Operasi Militer ‘Terdengar Bagus"

Donald Trump menyerang Presiden Kolombia Gustavo Petro dengan menyebut negaranya berada dalam kondisi kritis akibat perdagangan narkoba. “Kolombia adalah negara yang sangat sakit. Dia tidak akan bertahan lama, percayalah pada saya,” ujarnya dikutip Reuters.

Saat ditanya wartawan apakah pernyataannya itu berarti Amerika Serikat mempertimbangkan operasi militer di Kolombia, Trump menjawab singkat,“Kedengarannya bagus bagi saya.” tegas nya

Pernyataan tersebut memicu reaksi keras dari pemerintah Kolombia. Sejumlah pejabat tinggi menyerukan penguatan pertahanan nasional dan menegaskan kesiapan negara itu untuk menghadapi segala bentuk ancaman terhadap kedaulatan, menyusul kekhawatiran atas potensi agresi Amerika Serikat.

2. Kuba: “Ekonomi Hampir Runtuh Tanpa Venezuela”

Trump juga menyinggung sekutu lama Venezuela, Kuba, menyatakan bahwa perekonomiannya kian memburuk setelah hilangnya pasokan minyak Caracas , dan negara itu “tampaknya siap jatuh” tanpa bantuan tersebut menurut Trump.

Pernyataan ini disampaikan tanpa rincian tentang tindakan militer langsung terhadap Havana, tetapi menegaskan tekanan politik dan ekonomi yang diproyeksikan terjadi.

3. Greenland: Keinginan Penguasaan

Dalam pernyataan yang memicu gelombang protes trans-Atlantik, Trump menyebut bahwa AS perlu menguasai Greenland, wilayah otonom Denmark, demi alasan keamanan nasional, terutama untuk menghadapi kehadiran kapal militer Rusia dan China di kawasan Arktik.

“Kami membutuhkan Greenland dari sudut pandang keamanan nasional,” tegas Trump.

Pernyataan tersebut segera memicu reaksi keras dari Denmark dan para pejabat Uni Eropa. Sejumlah pemimpin Eropa menilai pernyataan Trump sebagai sesuatu yang tidak pantas disampaikan di antara negara-negara sekutu, serta berpotensi meningkatkan ketegangan militer di kawasan Atlantik Utara.

“Ancaman semacam ini tidak seharusnya muncul di antara sesama sekutu. Setiap eskalasi militer hanya akan merusak hubungan dalam NATO,” ujar pejabat Uni Eropa dikutip AP News.

Pemerintah Denmark menegaskan bahwa Greenland bukan objek tawar-menawar, sementara para analis keamanan Eropa memperingatkan bahwa retorika tersebut dapat melemahkan kohesi NATO dan membuka celah ketegangan baru di kawasan Arktik, yang semakin strategis akibat persaingan Amerika Serikat, Rusia, dan China.

4. Meksiko: Tekanan atas Kartel Narkoba

Trump juga menyinggung Meksiko, menyatakan bahwa pemerintahnya harus “menyelesaikan masalah kartel” atau bahwa AS “harus melakukan sesuatu”. Pernyataan ini muncul di tengah kritik Meksiko terhadap intervensi AS di Venezuela.

Pemerintah Meksiko mengecam serangan AS ke Venezuela dan menegaskan kedaulatan negaranya, sekaligus memperkuat kerja sama keamanan untuk menghindari skenario yang sama terjadi di Meksiko.

5. Iran: Musuh Lama

Trump juga mengatakan bahwa AS mengawasi Iran dengan sangat cermat, dan memperingatkan jika pemerintah Iran melakukan kekerasan terhadap para pengunjuk rasa seperti sebelumnya, negara itu “akan menerima respons keras dari Amerika Serikat.”

Kritikus internasional menilai pernyataan ini sebagai upaya meningkatkan tekanan geopolitik, meskipun belum ada ancaman militer langsung yang diumumkan secara resmi. Pernyataan Trump datang di tengah gelombang kritik internasional tentang legalitas serangan Amerika di Venezuela, yang oleh beberapa anggota Dewan Keamanan PBB disebut sebagai “kejahatan agresi.”

Ketegangan dengan negara-negara tetangga dan sekutu, termasuk protes dari Kolombia, penolakan Denmark terhadap klaim kepemilikan atas Greenland, dan kecaman pemerintah Meksiko, mencerminkan risiko geopolitik yang meningkat akibat retorika dan tindakan pemerintahan Trump pasca-Venezuela.

Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 07 Jan 2026

Tulisan ini telah tayang di balinesia.id oleh Redaksi pada 07 Jan 2026

Editor: Redaksi Daerah

RELATED NEWS