Dosen Unib Latih Guru SDN 88 Ciptakan Media Belajar Berbasis Virtual Reality

Herlina - Rabu, 26 Agustus 2026 18:44 WIB
Siswa kelas VI B SDN 88 Kota Bengkulu mencoba media pembelajaran berbasis Virtual Reality (VR Box) untuk menjelajahi Sistem Tata Surya secara tiga dimensi. (foto : istimewa)

BENGKULU, LyfeBengkulu.com- Di sebuah ruang kelas SDN 88 Kota Bengkulu, puluhan siswa terpaku menatap “langit” yang seolah membentang di depan mata mereka. Dengan mengenakan kacamata Virtual Reality (VR), mereka tak lagi sekadar membaca tentang Matahari, Bumi, dan planet-planet dari buku cetak, melainkan seolah melayang di antara benda-benda langit itu. Pengalaman belajar yang terasa seperti fiksi ilmiah itu lahir dari tangan guru mereka sendiri, hasil kolaborasi dengan tim dosen Universitas Bengkulu.

Selama ini, pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) di jenjang sekolah dasar kerap terbentur pada keterbatasan metode. Materi yang bersifat abstrak seperti Sistem Tata Surya sulit dibayangkan siswa ketika hanya disampaikan melalui ceramah dan gambar dua dimensi di buku teks. Akibatnya, konsep tentang jarak antarplanet, rotasi, hingga revolusi benda langit sering kali berhenti sebagai hafalan, bukan pemahaman.

Pembukaan kegiatan pelatihan pembuatan media Virtual Reality berbasis TPACK dan Problem Based Learning bagi guru SDN 88 Kota Bengkulu.

Berangkat dari persoalan itu, tim pengabdi Universitas Bengkulu yang diketuai Andang Wijanarko, S.Kom., M.Kom., menggelar program Pelatihan dan Pendampingan Pembuatan Virtual Reality berbasis TPACK dan Problem Based Learning (PBL). Andang bersama anggota tim, Dr. Ir. Endina Putri Purwandari, S.T., M.Kom., dan Prof. Dr. Endang Widi Winarni, M.Pd., serta mahasiswa Debi Heryanto, S.Pd., dan Intan Budiarty, menyasar para guru SDN 88 Kota Bengkulu sebagai mitra sasaran. Program ini dilaksanakan sepanjang 1 Mei hingga November 2026.

Dalam pelatihan, para guru diperkenalkan pada rangkaian teknologi tepat guna yang relatif mudah diakses. Mereka belajar mendesain materi visual menggunakan Canva, membangun objek tiga dimensi melalui aplikasi Assemblr EDU, lalu menyajikannya secara imersif dengan bantuan VR Box. Seluruh proses dibingkai dalam kerangka TPACK (Technological Pedagogical Content Knowledge) yang memadukan penguasaan teknologi, pedagogi, dan konten, serta pendekatan PBL yang mendorong siswa belajar melalui pemecahan masalah nyata.

Dalam pelatihan, para guru diperkenalkan pada rangkaian teknologi tepat guna yang relatif mudah diakses. Mereka belajar mendesain materi visual menggunakan Canva, membangun objek tiga dimensi melalui aplikasi Assemblr EDU, lalu menyajikannya secara imersif dengan bantuan VR Box. Seluruh proses dibingkai dalam kerangka TPACK (Technological Pedagogical Content Knowledge) yang memadukan penguasaan teknologi, pedagogi, dan konten, serta pendekatan PBL yang mendorong siswa belajar melalui pemecahan masalah nyata.

Pemaparan materi kerangka TPACK sebagai landasan pengembangan media pembelajaran berbasis teknologi oleh tim pengabdi.

Antusiasme paling terlihat justru dari para siswa. Ketika giliran mencoba VR Box tiba, kelas VI B dipenuhi decak kagum. Anak-anak bergantian “menjelajahi” ruang angkasa, mengamati planet berputar di orbitnya, dan mengajukan pertanyaan yang lebih hidup dibanding saat belajar dari buku.

“Kami ingin membuktikan bahwa teknologi imersif seperti VR bukan lagi barang mewah yang hanya bisa dinikmati sekolah di kota besar. Dengan aplikasi yang mudah diakses seperti Canva dan Assemblr EDU, guru di daerah pun mampu menciptakan sendiri media belajar yang membuat materi abstrak jadi nyata bagi siswa,” ujar Andang Wijanarko.

Seorang guru mempraktikkan langsung pembuatan objek tiga dimensi menggunakan aplikasi Assemblr EDU selama sesi pendampingan.

Sambutan hangat datang dari pihak sekolah. Fitria Ekawati, S.Pd., M.Pd., selaku penanggung jawab di SDN 88 Kota Bengkulu, menilai program ini membuka wawasan baru bagi para guru.

“Kami sangat bersyukur menjadi mitra program ini. Guru-guru kami kini lebih percaya diri memanfaatkan teknologi, dan yang paling penting, semangat belajar anak-anak meningkat drastis. Mereka jadi lebih ingin tahu,” kata Fitria.

Agar manfaatnya tidak berhenti seusai pelatihan, tim pengabdi merancang skema keberlanjutan. Sebuah komunitas belajar guru dibentuk sebagai wadah berbagi praktik baik, sejumlah perangkat VR dihibahkan kepada sekolah, dan hasil pelatihan direncanakan diimbaskan lebih luas melalui Kelompok Kerja Guru (KKG) di lingkungan Kota Bengkulu.

Tim pengabdi mendampingi para guru SDN 88 Kota Bengkulu dalam menyusun perangkat pembelajaran berbasis VR.

Tim pengabdi menyampaikan terima kasih kepada Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kemdiktisaintek atas pendanaan yang diberikan melalui Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat Ruang Lingkup Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat dengan Nomor SP DIPA-139.04.1.693320/2026 revisi ke-02 tanggal 08 April 2026, serta nomor kontrak turunan Nomor: 1978/UN30.15/PM/2026. Dukungan tersebut menjadi pendorong utama terlaksananya inovasi pendidikan dasar berbasis teknologi ini di Bumi Rafflesia.

Bagikan

RELATED NEWS