Hewan Dianggap Bagian Keluarga, Dokter Hewan 24 Jam Makin Laris di Singapura

Redaksi Daerah - Selasa, 04 Agustus 2026 19:41 WIB
Dokter Hewan 24 Jam Kian Diburu di Singapura, Ini Penyebabnya

JAKARTA –Biaya perawatan kesehatan hewan di Singapura terus mengalami kenaikan seiring kemajuan teknologi medis dan meningkatnya jumlah masyarakat yang memelihara hewan.

Walaupun biaya pengobatan tidak murah, banyak pemilik hewan tetap bersedia mengeluarkan dana besar demi memastikan anjing dan kucing peliharaan mereka mendapatkan penanganan terbaik.

Kondisi ini terlihat di Animal Wellness Referral Centre (AWRC), salah satu dari empat rumah sakit hewan di Singapura yang menyediakan layanan dokter hewan selama 24 jam.

Setiap harinya, fasilitas tersebut menangani beragam kasus, mulai dari pemeriksaan rutin, tindakan operasi, hingga penanganan kondisi darurat yang berlangsung sepanjang waktu.

BACA JUGA: Mengungkap Deretan Penguasa Bisnis Beras di Indonesia, Ada Wilmar Group

Perawatan Bisa Capai Puluhan Juta Rupiah

Salah satu pemilik hewan, Jan Tan, mengaku telah menghabiskan biaya lebih dari 19.000 dolar Singapura untuk pengobatan anjing pudelnya yang mengidap kanker.

Biaya tersebut mencakup dua kali operasi, terapi imun, hingga vaksin kanker. Meski hasil pengobatan tidak dapat dijamin, ia memilih tetap melanjutkan perawatan. "Tidak ada jaminan dalam pengobatan, tetapi saya akan menyesal jika tidak melakukan yang terbaik," ujarnya.

Kasus lain datang dari pemilik anjing French Bulldog bernama Macy yang harus mempertimbangkan operasi tulang belakang dengan biaya mencapai 10.000 hingga 20.000 dolar Singapura, belum termasuk pemeriksaan CT Scan yang bernilai ribuan dolar.

Mengapa Biaya Dokter Hewan Mahal?

Menurut dokter hewan spesialis sekaligus pendiri Beecroft Animal Specialist & Emergency Hospital, Patrick Maguire, tingginya biaya dipengaruhi oleh investasi besar yang harus dikeluarkan rumah sakit hewan.

Rumah sakit membutuhkan peralatan medis berstandar manusia seperti MRI dan CT Scan, tenaga dokter spesialis, obat-obatan, hingga layanan siaga 24 jam yang tetap harus beroperasi meski tidak ada pasien.

Selain itu, kenaikan biaya sewa tempat, gaji tenaga medis, serta obat-obatan impor turut mendorong kenaikan tarif layanan.

Tidak seperti layanan kesehatan manusia, seluruh biaya pengobatan hewan di Singapura tidak mendapat subsidi pemerintah sehingga dibebankan langsung kepada pemilik hewan.

Biaya Darurat Bisa Tembus Ribuan Dolar

Di rumah sakit hewan 24 jam, biaya konsultasi darurat berkisar 128 hingga 250 dolar Singapura, belum termasuk biaya pemeriksaan maupun tindakan medis.

Biaya tambahan meliputi:

  • Foto rontgen: 100–250 dolar Singapura
  • USG: 300–500 dolar Singapura
  • Rawat inap: 200–500 dolar Singapura per malam
  • Perawatan ICU: 500–1.000 dolar Singapura per malam

Untuk kasus ringan seperti muntah atau diare, biaya pengobatan dapat berkisar 60 hingga 500 dolar Singapura, sedangkan kasus trauma berat bisa mencapai ribuan dolar.

Asuransi Hewan Mulai Diminati

Seiring meningkatnya biaya perawatan, permintaan terhadap asuransi hewan peliharaan juga terus bertambah.

Sejumlah perusahaan seperti Income, MSIG, Liberty, Etiqa, dan CIMB telah menawarkan produk asuransi khusus hewan. Namun, perlindungan yang diberikan masih memiliki berbagai keterbatasan, seperti pengecualian penyakit bawaan, batas usia hewan, hingga plafon klaim yang belum mampu menutupi biaya operasi besar.

Hewan Dianggap Bagian dari Keluarga

Bagi banyak warga Singapura, tingginya biaya bukan lagi alasan untuk menghentikan pengobatan.

Lynn Lum, misalnya, baru saja membayar sekitar 3.000 dolar Singapura untuk perawatan French Bulldog miliknya yang mengidap kanker. "Dia seperti anak saya," katanya.

Pandangan serupa juga dirasakan banyak pemilik hewan lainnya. Kini, anjing dan kucing tidak lagi sekadar peliharaan, tetapi telah menjadi bagian dari keluarga. Perubahan tersebut membuat semakin banyak orang bersedia mengeluarkan biaya besar demi memperpanjang dan meningkatkan kualitas hidup hewan kesayangan mereka.

Tulisan ini telah tayang di sijori.id oleh Pratiwi pada 03 Aug 2026

Tulisan ini telah tayang di balinesia.id oleh Redaksi pada 04 Agt 2026

Editor: Redaksi Daerah

RELATED NEWS