Kampanye Kartu Merah untuk Pekerja Anak Libatkan Kaum Muda Indonesia
JAKARTA, LyfeBengkulu.com- Organisasi Perburuhan Internasional (ILO), bekerja sama dengan Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, memperingati Hari Dunia Menentang Pekerja Anak pada Jumat, 12 Juni, melalui kampanye peningkatan kesadaran mahasiswa mengenai penghapusan segala bentuk pekerjaan untuk anak. Kegiatan ini diselenggarakan dengan mengusung tema global tahun ini, “Kartu merah untuk pekerja anak: Bermain untuk untuk anak, pekerjaan layak untuk orang dewasa.”
Didukung oleh proyek Mewujudkan Keuntungan Perdagangan Bebas dari Diskriminasi Gender dan Pekerja Anak (RealGains) ILO, yang didanai oleh Pemerintah Kanada, kampanye ini mempertemukan lebih dari 100 mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, serta perwakilan lembaga pemerintah, organisasi pengusaha dan pekerja serta mitra ILO lainnya. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran kaum muda mengenai isu pekerja anak dan mendorong mereka untuk berpartisipasi dalam upaya menghapus pekerja anak di Indonesia.
Melalui sesi berbagi pengetahuan yang interaktif, para peserta mempelajari langkah-langkah kolaboratif yang sedang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia, organisasi pengusaha dan pekerja, serta para pemangku kepentingan lainnya untuk menangani pekerja anak dan mengatasi penyebab utamanya, termasuk kemiskinan, keterbatasan akses pendidikan dan kurangnya kesempatan kerja layak bagi orang dewasa.
- Buktikan Budaya Kerja Sehat dan Kolaboratif, PGN Raih HR Asia Awards 2026
- PGN Group Perkuat Konektivitas Infrastruktur Gas Bumi Nasional
- IESR: Implementasi PLTS 100 GW Perlu Dimulai dari Program Cepat dan Terukur
“Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya bangga dapat berkolaborasi dengan ILO dalam memberdayakan kaum muda untuk menjadi advokat keadilan sosial dan hak-hak anak. Perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menumbuhkan kesadaran dan mendorong aksi kolektif untuk melindungi anak serta mendukung pembangunan yang inklusif,” ujar Asmin Fransiska, Dekan Fakultas Hukum, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya.
Salah satu sorotan utama acara ini adalah kesaksian Abdul Rohim, yang membagikan perjalanan hidupnya yang inspiratif dalam mengatasi kesulitan dan memutus rantai pekerja anak. Semasa kecil, Abdul bekerja sebagai pengamen jalanan untuk membantu keluarganya. Kemudian, dengan dukungan ILO, ia mengikuti berbagai program pelatihan dalam inisiatif penghapusan pekerja anak di Indonesia, yang membuka peluang baru dan memperkuat kapasitasnya untuk meraih masa depan yang lebih baik.
Saat ini, Abdul memimpin sebuah organisasi non-pemerintah yang berfokus pada perluasan akses pendidikan bagi anak-anak dan komunitas rentan. Kisahnya menunjukkan bagaimana akses terhadap pendidikan, pengembangan keterampilan dan layanan dukungan dapat membantu anak-anak dan keluarga membangun masa depan yang lebih baik.
- Meta Resmi Luncurkan WhatsApp dan Instagram Berbayar
- Rethinking the Moment Evolusi Mobile Imaging dari Xiaomi dan Leica
- Promo POCO: Saatnya Gamer Kalcer Naik Level!
Acara ini juga menampilkan berbagai kegiatan interaktif dan edukatif, termasuk permainan, pertunjukan musik, serta inisiatif peningkatan kesadaran. Kegiatan-kegiatan tersebut mendorong mahasiswa untuk terlibat secara aktif dengan pesan kampanye, menunjukkan komitmen mereka untuk mengakhiri pekerja anak, serta memperluas jangkauan kampanye melalui jaringan dan platform media sosial mereka.
“Perjuangan melawan pekerja anak bukan hanya tentang melindungi anak-anak hari ini; ini adalah investasi untuk masa depan bagi masyarakat secara keseluruhan. Setiap anak seharusnya berada di sekolah, bukan di tempat kerja,” ungkap Simrin Singh, Direktur ILO untuk Indonesia dan Timor-Leste. “Kampanye ini menegaskan bahwa penghapusan pekerja anak adalah tanggung jawab bersama. Karenanya, kami berharap para kaum muda yang berpartisipasi hari ini terinspirasi untuk menggunakan suara dan kepemimpinan mereka dalam mewujudkan masa depan di mana setiap anak dapat belajar, berkembang dan mencapai potensi mereka.”
Hari Dunia Menentang Pekerja Anak diperingati setiap tahun pada 12 Juni untuk menarik perhatian pada upaya global yang diperlukan untuk menghapus pekerja anak. Menurut estimasi global terbaru yang dirilis oleh ILO dan UNICEF, hampir 138 juta anak terlibat dalam pekerja anak di seluruh dunia pada 2024, termasuk sekitar 54 juta anak yang bekerja dalam kondisi berbahaya yang mengancam kesehatan, keselamatan dan perkembangan mereka.
Pekerja anak juga masih menjadi tantangan di Indonesia. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), diperkirakan 1,05 juta anak berusia 5–17 tahun terlibat dalam pekerjaan pada 2024, atau sekitar 1,8 persen dari jumlah anak dalam kelompok usia tersebut. Kendati Indonesia telah mencatat kemajuan penting dalam mengurangi pekerja anak selama bertahun-tahun, angka-angka ini menunjukkan perlunya tindakan yang berkelanjutan dan terkoordinasi untuk mengatasi akar permasalahannya, termasuk kemiskinan, keterbatasan akses terhadap pendidikan berkualitas, perlindungan sosial yang belum memadai, serta berbagai kerentanan yang dihadapi keluarga di sektor ekonomi informal.
ILO terus menjalin kerja sama dengan pemerintah, organisasi pengusaha dan pekerja, masyarakat sipil, dunia akademik serta mitra pembangunan di Indonesia untuk memajukan kebijakan dan program yang mencegah dan menghapus pekerja anak, sekaligus mempromosikan pekerjaan layak dan keadilan sosial bagi semua.
