Ketika Rupiah Turun, Siapa yang Paling Banyak Untung?
JAKARTA - Saat banyak orang mulai cemas melihat nilai tukar rupiah terus melemah di papan money changer, ada pihak lain yang justru diam-diam menikmati situasi ini.
Perusahaan berbasis ekspor, mulai dari industri sawit di Kalimantan sampai tambang nikel di Sulawesi, sedang berada di posisi yang diuntungkan. Melemahnya rupiah malah berubah menjadi peluang besar untuk mendulang keuntungan.
Nilai tukar rupiah tercatat menyentuh Rp17.405 per dolar AS, menjadi salah satu titik terlemah sepanjang tahun sekaligus menegaskan tekanan yang sudah terasa sejak awal 2026. Namun bagi para eksportir komoditas, kondisi ini bukan sinyal bahaya, melainkan momentum yang membawa keuntungan besar.
BACA JUGA: Met Gala 2026 Diselimuti Kontroversi, dari Jeff Bezos hingga Aksi Boikot
Mekanisme Sederhananya: Jual Dolar, Bayar Rupiah
Logikanya tidak rumit, eksportir yang menjual barang dengan harga US$100, dengan kurs Rp16.000 tentu lebih menguntungkan ketimbang ekspor dengan kurs Rp15.000 per dolar AS, ada potensi keuntungan tambahan dari kondisi kurs rupiah yang melemah.
Yang membuat sektor ekspor komoditas lebih istimewa, biaya produksinya mayoritas dalam rupiah, mulai gaji karyawan, sewa lahan, hingga operasional harian, sementara pendapatannya masuk dalam dolar.
Direktur Eksekutif Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo), Firman Bakri, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah justru dapat menguntungkan eksportir, karena biaya seperti gaji yang dibayarkan dalam rupiah menjadi relatif lebih rendah dibanding pendapatan dalam dolar AS.
Sekitar 90% transaksi ekspor Indonesia masih menggunakan dolar AS, sehingga setiap pelemahan rupiah berarti nilai tukar yang lebih menguntungkan bagi para eksportir.
Baca juga : Logika Patah, Surplus Dagang Tak Mampu Tahan Rupiah
Sawit: Keuntungan Ganda dari Kurs dan Volume
Sektor kelapa sawit menjadi salah satu penerima manfaat terbesar dari dinamika global dan pelemahan rupiah. Sepanjang 2025, kinerja ekspor menunjukkan lonjakan signifikan, baik dari sisi volume maupun nilai.
Peningkatan ini tidak terjadi secara kebetulan, melainkan didorong oleh kombinasi harga global yang kuat serta nilai tukar dolar AS yang lebih tinggi terhadap rupiah, sehingga memperbesar nilai ekspor dalam rupiah.
- Volume ekspor sawit Indonesia mencapai 32,34 juta ton pada 2025
- Nilai ekspor menembus US$35,87 miliar atau sekitar Rp590 triliun
- Secara tahunan, nilai ekspor tumbuh 29%, sementara volume naik 9,51%
- Kenaikan didorong oleh pelemahan rupiah, dari Rp16.338/USD (Februari) ke Rp16.474/USD (Maret 2025)
- Pada Maret 2025 saja, ekspor CPO dan turunannya mencapai US$2,19 miliar (Rp35,3 triliun)
- Angka tersebut melonjak 40,85% YoY dibandingkan Maret 2024
Kombinasi kenaikan harga komoditas dan kurs ini membuat sektor sawit semakin strategis sebagai penopang ekspor Indonesia.
Batu Bara dan Nikel Ikut Ketiban Berkah
Sektor pertambangan menikmati dinamika serupa. Komoditas seperti batu bara dan nikel mengalami kenaikan harga di pasar global, dan posisi Indonesia sebagai negara eksportir memberikan efek positif yang mampu mengimbangi tekanan terhadap nilai tukar.
Untuk nikel, kinerjanya bahkan mencuri perhatian. Dilansir dari Indonesian Mining Association, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) mencatat kenaikan pendapatan segmen nikel sebesar 56% year-on-year menjadi Rp14,85 triliun pada 2025.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas David Kurniawan menilai, ketika harga nikel merangkak ke kisaran US$17.000–US$19.500 per ton, margin laba emiten di sektor tersebut diprediksi makin melebar.
Dalam skenario pelemahan rupiah, produk batu bara, CPO, nikel, dan tekstil menjadi lebih murah di mata pembeli global, sekaligus meningkatkan daya saing eksportir Indonesia di pasar internasional.
Baca juga : Rupiah Tembus 17.400: Ini Dia Strategi Amankan Portofolio Saat Dolar Ngamuk
Bukan Sekadar Keberuntungan
Ekonom Universitas Gadjah Mada Eddy Junarsin menegaskan bahwa pelemahan rupiah tidak selalu berdampak negatif. "Sebenarnya mata uang yang terdepresiasi itu juga banyak manfaatnya, apalagi kalau depresiasi itu terjadi tidak hanya atas nominal exchange rate, namun juga atas real exchange rate," jelas Eddy dalam keterangan resmi, dikutip Rabu, 6 Mei 2026.
Pernyataan itu sejalan dengan kondisi lapangan. Industri ekspor tidak hanya mendapat selisih kurs, mereka juga mendapat efisiensi biaya secara otomatis.
Ketika pengeluaran operasional dalam rupiah "mengecil" nilainya secara relatif terhadap pendapatan dolar, margin keuntungan melebar tanpa harus menekan harga jual.
Tapi Bukan Tanpa Catatan
Meski eksportir bersorak, cerita ini tidak sepenuhnya tanpa sisi gelap. Bank Indonesia diperkirakan akan tetap mempertahankan kebijakan moneter pro-stability guna mengawal nilai tukar. Pemerintah juga mulai mempertimbangkan instrumen fiskal tambahan.
Anggota Komisi XI DPR RI, Amin Ak, mendorong pemerintah mempertimbangkan penerapan windfall tax terhadap berbagai komoditas ekspor yang menikmati lonjakan harga global.
"Ketika batubara, nikel, sawit, atau komoditas ekspor lain melonjak dan menghasilkan windfall profit, negara tidak boleh hanya menjadi penonton," ujar Amin, dalam keterangan resminya.
Artinya, cuan besar dari pelemahan rupiah ini bisa jadi tidak selamanya bisa dinikmati penuh. Negara pun ikut mengincar bagiannya dan itu cerita yang perlu dicermati investor komoditas dalam jangka menengah.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 07 May 2026
Tulisan ini telah tayang di balinesia.id oleh Redaksi pada 07 Mei 2026
