Super Flu Muncul, Ini Gejala dan Tips Pencegahannya
JAKARTA – Belakangan ini, publik dibuat ramai oleh kemunculan penyakit yang disebut super flu. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melaporkan bahwa sebanyak 62 orang telah terkonfirmasi terinfeksi. Super flu diketahui sebagai varian baru dari virus influenza tipe A (H3N2) yang termasuk dalam subclade K.
Berdasarkan data Kemenkes, kelompok yang paling banyak terdampak varian influenza terbaru ini adalah perempuan dan anak-anak. Hingga 25 Desember 2025, tercatat 62 kasus super flu subclade K, dengan sebaran terbanyak berada di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat.
Banyak yang bertanya-tanya mengenai virus ini, apakah virus ini merupakan jenis baru, apakah lebih berbahaya, atau bahkan berpotensi menjadi ancaman pandemi yang baru? Untuk itu, mari simak artikel berikut.
- Baca Juga: Virus HMPV Tak Sebahaya dengan Covid-19
Apa Itu Super Flu?
Super flu sebenarnya bukan istilah medis resmi, melainkan sebutan yang populer digunakan untuk menggambarkan peningkatan kasus influenza yang cukup tinggi, disertai gejala yang terlihat lebih parah, dan masa pemulihan yang cenderung lebih lama dibandingkan flu biasa.
Fenomena tersebut berkaitan dengan kemunculan varian terbaru virus influenza A (H3N2) yang dikenal sebagai subclade K. Varian ini merupakan hasil mutase dari virus influenza musiman yang telah lama ada, namun kini berkembang menjadi tipe yang lebih dominan dan menyebar luas di sejumlah negara seperti Amerika Serikat, Inggris, Jepang, serta beberapa wilayah di Eropa.
Dilansir dari Prevention, Thomas Russo, M.D., profesor sekaligus kepala divisi penyakit infeksi di University at Buffalo, New York, menambahkan bahwa subclade K memiliki sejumlah mutasi yang diduga membuatnya lebih mudah menular. Dampaknya, jumlah penderita flu pun meningkat.

Menurut Dr. Russo, subclade K pertama kali terdeteksi di Inggris, kemudian menyebar ke Kanada, dan kini menjadi varian dominan di Amerika Serikat. Lonjakan kasus flu juga terjadi dengan cepat.
Data dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menunjukkan bahwa sekitar 5% hasil tes laboratorium virus terbaru dinyatakan positif flu, sementara 2,5% kunjungan ke dokter berkaitan dengan penyakit pernapasan seperti flu.
Grafik CDC mengenai kasus flu di AS juga memperlihatkan peningkatan yang jelas dalam beberapa pekan terakhir, dengan dominasi strain influenza A.
Musim flu tahun lalu tergolong kurang baik, dan tahun ini pun diperkirakan tidak jauh berbeda. “Sayangnya, tampaknya kita akan menghadapi dua musim flu buruk secara berturut-turut,” ujar Dr. Russo.
Meski demikian, Dr. Adalja menegaskan bahwa virus flu tidak tiba-tiba bermutasi menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda. Menurutnya, istilah super flu lebih bersifat sensasional. Ia menyarankan agar masyarakat menyadari bahwa musim flu kali ini kemungkinan akan berada pada tingkat keparahan sedang hingga berat.
Gejala Super Flu
Sekali lagi, ini bukan jenis flu yang berbeda, melainkan flu yang sedang menyebar luas saat ini. “Kondisi ini akan menimbulkan gejala flu yang umumnya cukup berat,” ujar Dr. Russo. Gejala flu yang biasa muncul antara lain:
- Demam atau rasa meriang
- Batuk
- Sakit tenggorokan
- Pilek atau hidung tersumbat
- Nyeri otot atau pegal-pegal pada tubuh
- Sakit kepala
- Rasa lelah atau kelelahan
Upaya Pencegahan dan Perlindungan
Dr. Adalja menyebutkan bahwa vaksin masih memberikan perlindungan terhadap penyakit berat akibat varian subclade K. Pendapat ini juga didukung oleh Dr. Russo, yang mengatakan bahwa meski efektivitasnya tidak maksimal, vaksin tetap dapat menurunkan risiko rawat inap dan dampak yang lebih serius.
Selain vaksinasi, penggunaan masker di dalam tempat ramai juga dinilai dapat membantu mengurangi penularan. Sementara, dilansir dari rsjrw.id, rajin mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir, terutama sebelum makan dan setelah beraktivitas di luar rumah, dapat membantu mencegah virus masuk ke dalam tubuh.
Selain itu, sebaiknya menghindari menyentuh area wajah seperti mata, hidung, dan mulut apabila tangan belum dalam kondisi bersih.
Adapun, melakukan aktivitas fisik secara teratur dapat membantu memperkuat sistem imun dan menjaga kondisi tubuh tetap bugar. Olahraga tidak harus berat, cukup dengan kegiatan ringan seperti berjalan santai, bersepeda, atau senam yang dilakukan secara teratur.
Segera mencari bantuan medis jika gejala yang dialami memburuk, khususnya bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lanjut usia, serta mereka yang memiliki penyakit kronis.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Distika Safara Setianda pada 05 Jan 2026
Tulisan ini telah tayang di balinesia.id oleh Redaksi pada 05 Jan 2026
