Terancam AI? Ini Bekal Biar Tidak Tersingkir

Redaksi Daerah - Kamis, 12 Februari 2026 16:04 WIB
AI Ancam Geser Karyawan Biasa, Ini yang Harus Disiapkan!

JAKARTA - Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini membawa perubahan besar dalam dunia kerja. Jika sebelumnya teknologi ini hanya dianggap sebagai pendukung produktivitas, saat ini AI mulai menggeser struktur organisasi perusahaan, terutama pada posisi entry-level atau karyawan level awal.

Mengutip laporan The Economist bertajuk “How Big a Threat Is AI to Entry-Level Jobs?” yang terbit Kamis, 12 Februari 2026, AI tidak sekadar berpotensi memangkas jumlah pekerjaan bagi pemula. Lebih dari itu, teknologi ini juga mengubah cara perusahaan merancang jalur karier serta sistem pengembangan dan pembinaan talenta.

Peran entry-level selama ini identik dengan tugas-tugas rutin seperti riset awal, penulisan draf, input data, penyusunan laporan sederhana, hingga analisis dasar. Karakter pekerjaan yang repetitif dan terstruktur membuatnya relatif mudah diotomatisasi oleh AI generatif maupun sistem berbasis algoritma. Dalam struktur organisasi berbentuk “piramida”, posisi terbawah biasanya diisi oleh banyak pekerja pemula.

Namun dengan kemampuan AI yang semakin cepat dan murah, sebagian fungsi tersebut kini dapat digantikan oleh sistem otomatis, sehingga kebutuhan perusahaan terhadap tenaga kerja di level dasar berpotensi menyusut.

Meski demikian, ancaman terbesar bukan semata soal hilangnya pekerjaan. Laporan tersebut menekankan risiko jangka panjang berupa hilangnya fase “belajar sambil bekerja” yang selama ini menjadi fondasi pembentukan karier.

Pekerjaan entry-level berfungsi sebagai ruang pelatihan alami bagi generasi muda untuk memahami proses bisnis, budaya kerja, serta dinamika organisasi. Jika tahapan ini terpangkas drastis, perusahaan bisa menghadapi kesenjangan pengalaman di masa depan dan kesulitan mencetak pemimpin yang matang karena minim jam terbang sejak awal karier.

Generasi Muda Punya Keunggulan

AI pada dasarnya tidak selalu menghapus pekerjaan, tetapi mengubah sifatnya. Alih-alih mengerjakan tugas administratif atau teknis sederhana, karyawan pemula dapat beralih ke peran yang lebih bernilai tambah, seperti mengawasi dan memvalidasi hasil kerja AI, melakukan penilaian kritis terhadap data, berkolaborasi lintas tim, serta mengembangkan ide kreatif.

Peran entry-level perlu direkayasa ulang agar berfokus pada keterampilan yang sulit diotomatisasi, seperti kemampuan analitis, empati, komunikasi, kreativitas, serta problem solving kompleks. Dengan pendekatan ini, AI menjadi alat pendukung, bukan pengganti total tenaga kerja manusia.

Menariknya, generasi muda yang sejak awal akrab dengan teknologi AI justru dapat menjadi sumber keunggulan kompetitif bagi perusahaan. Mereka cenderung lebih adaptif dan cepat mengintegrasikan AI dalam alur kerja sehari-hari.

Organisasi yang menerapkan strategi hybrid, menggabungkan manusia dan AI berpeluang meningkatkan produktivitas sekaligus tetap membangun talenta masa depan. Dalam model ini, pekerja muda bukan sekadar operator, melainkan inovator yang mampu memanfaatkan teknologi untuk menciptakan nilai baru.

Apa yang Perlu Dipersiapkan?

Menghadapi perubahan ini, pekerja dan perusahaan perlu melakukan penyesuaian strategis. Karyawan dituntut meningkatkan literasi AI dan memahami cara memanfaatkan teknologi tersebut secara produktif.

Pengembangan keterampilan bernilai tinggi seperti kreativitas, analisis kritis, komunikasi, dan kepemimpinan menjadi semakin penting. Di sisi lain, perusahaan perlu mendesain ulang jalur karier agar tetap menyediakan ruang pembelajaran dan mentoring bagi karyawan baru.

Investasi dalam pelatihan ulang (reskilling) dan pengembangan kompetensi menjadi kunci agar transformasi tidak menimbulkan kesenjangan talenta. AI memang berpotensi menggeser sebagian karyawan biasa, terutama di level dasar. Namun seperti revolusi teknologi sebelumnya, perubahan ini juga membuka peluang restrukturisasi dan peningkatan produktivitas.

Tantangannya bukan sekadar mempertahankan pekerjaan lama, melainkan membangun keterampilan baru yang relevan dengan era kolaborasi manusia dan mesin. Pada akhirnya, masa depan dunia kerja akan sangat ditentukan oleh kesiapan manusia dan organisasi untuk beradaptasi serta berevolusi bersama teknologi.

Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 12 Feb 2026

Tulisan ini telah tayang di balinesia.id oleh Redaksi pada 12 Feb 2026

Editor: Redaksi Daerah

RELATED NEWS