Anti Panik! 4 Tips Investasi Emas Saat Harga Tinggi

Selasa, 27 Januari 2026 20:41 WIB

Penulis:Redaksi Daerah

Editor:Redaksi Daerah

4 Tips Investasi Emas Saat Harga Tinggi, Jangan FOMO!
4 Tips Investasi Emas Saat Harga Tinggi, Jangan FOMO! (ist)

JAKARTA - Harga emas terus meroket hingga nyaris menyentuh Rp3 juta per gram. Kondisi ini menjadi pengingat, terutama bagi generasi muda, untuk mengambil keputusan investasi secara bijak tanpa terjebak rasa takut ketinggalan tren atau Fear of Missing Out (FOMO).

Sebagai gambaran, FOMO adalah perasaan cemas ketika seseorang merasa tertinggal dari tren yang sedang populer. Fenomena ini cukup sering dialami anak muda, yang terdorong mengikuti arus tanpa mempertimbangkan konsekuensi dan dampaknya dalam jangka panjang.

BACA JUGA: Kenali Fenomena Sadfishing, Sedih Berlebihan di Medsos

Melansir dari laman Logam Mulia, Senin, 26 Januari 2026, harga emas saat ini naik sebesar Rp30.000 dan berkisar pada harga Rp2.917.000 per gram. Dalam konteks ini, kenaikan harga emas dapat dicermati secara tepat, terutama terkait penggunaannya sebagai instrumen investasi.  

Harga emas Antam yang melonjak ini sebagian dipicu oleh sentimen pasar global, termasuk kekhawatiran terhadap inflasi dan ketidakpastian ekonomi. Tren tersebut membuat banyak investor dan calon investor khususnya anak muda, mempertimbangkan kapan waktu yang tepat untuk membeli emas.

Melansir dari The Economic Times, Senin, 26 Januari 2026, sejumlah analis mengingatkan bahwa emas tetap memiliki risiko tersendiri. Harga emas yang mencapai level tertinggi sering kali diikuti oleh volatilitas dan peluang koreksi harga secara tiba-tiba. Kondisi ini menjadi perhatian besar, sehingga investor tidak boleh membeli emas secara sembarangan, terutama untuk memenuhi kebutuhan gaya hidup semata.

Empat Hal yang Perlu Diperhatikan Supaya Tidak FOMO Saat Membeli Emas:

1. Kenali tujuan dan jangka waktu investasi

Investor perlu memastikan tujuan membeli emas secara jelas, seperti untuk melindung nilai jangka panjang (safe haven), dana darurat, atau tujuan lain. Tanpa tujuan yang terukur, keputusan beli hanya karena FOMO bisa berujung volatilitas yang tak terduga dan mengganggu rencana keuangan. 

2. Jangan membeli saat tren meningkat

Source: iStock

Melihat kondisi pasar yang ramai tanpa melihat faktor fundamental, menjadi jebakan herd mentality. Jebakan ini terjadi saat keputusan investasi didorong oleh emosi tanpa adanya analisis yang matang. Perilaku tersebut mengakibatkan kerugian, yang disebabkan keserakahan melakukan investasi secara terburu-buru. 

3. Pertimbangkan strategi pembelian bertahap

Sebelum membeli emas, investor harus membuat strategi yang akan diterapkan secara ke depan. Daripada mengikuti FOMO membeli emas saat harga tinggi, lebih baik terapkan strategi dollar-cost averaging atau membeli emas secara berkala.

Strategi ini dapat membantu meratakan harga beli rata-rata dan mengurangi risiko yang terjadi, sekaligus mengurangi dampak volatilitas jangka pendek. 

4. Lihat bentuk emas yang dibeli

Source: Gold Secure

Emas sebagai instrumen investasi tidak hanya terbatas pada bentuk fisik seperti batangan. Saat ini, investor juga memiliki pilihan lain seperti emas digital maupun Gold ETF yang menawarkan tingkat likuiditas lebih tinggi serta biaya penyimpanan yang relatif lebih rendah dibandingkan emas konvensional.

Melansir dari Physical Gold, Senin, 26 Januari 2026, para pakar investasi menilai diversifikasi portofolio jauh lebih penting dibandingkan menempatkan seluruh dana pada satu instrumen saja. Strategi investasi yang mengombinasikan emas, saham, serta instrumen keuangan lainnya dinilai lebih aman untuk menekan risiko dalam jangka panjang.

Dengan pemahaman yang matang terkait tujuan investasi, serta memahami potensi risiko, generasi muda diharapkan dapat mengambil keputusan finansial secara lebih rasional. Pendekatan ini menjadi kunci agar strategi investasi yang dijalankan dapat tumbuh secara optimal dan berkelanjutan. 

Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Maharani Dwi Puspita Sari pada 26 Jan 2026 

Tulisan ini telah tayang di balinesia.id oleh Redaksi pada 27 Jan 2026