ASN
Rabu, 24 Juni 2026 10:04 WIB
Penulis:Redaksi Daerah
Editor:Redaksi Daerah

JAKARTA— Isu mengenai iPhone 18 Pro yang diperkirakan akan dijual hingga sekitar Rp26 juta langsung menjadi bahan perbincangan di kalangan pecinta gadget. Sebagian orang menilai harga tersebut masih tergolong “masuk akal” untuk sebuah ponsel flagship kelas atas.
Namun, bagi banyak anak muda di Indonesia, harga itu bisa terasa cukup sulit untuk dijangkau. Hal ini pun memunculkan pertanyaan, mengapa biaya untuk melakukan upgrade smartphone terasa semakin mahal dari tahun ke tahun? Penyebabnya tidak semata-mata karena Apple terus menambahkan fitur-fitur premium pada produknya, seperti:
Ada faktor lain yang jauh lebih dekat dengan kondisi ekonomi Indonesia saat ini yakni rupiah yang masih lemah terhadap dolar AS. Dengan kurs rupiah yang sempat bertahan di kisaran Rp17.800 per dolar AS, kenaikan harga gadget impor seperti iPhone menjadi salah satu dampak paling nyata yang langsung dirasakan konsumen muda.
Harga iPhone di Indonesia tidak semata-mata berasal dari harga rilis global. Ada beberapa lapisan biaya:
Artinya, setiap pelemahan rupiah langsung memberi tekanan pada harga akhir. Mari ambil simulasi sederhana. Jika harga global iPhone 18 Pro misalnya US$1.399:
Dengan kurs Rp15.500:
= sekitar Rp21,68 juta
Dengan kurs Rp17.800:
= sekitar Rp24,9 juta
Dalam skenario ini, pelemahan kurs saja sudah bisa menambah harga jutaan rupiah. Angka ini belum termasuk pajak dan margin distribusi. Tambahan biaya lain-lain diperkirakan membuat harga gadget menjadi sekitar Rp26 juta.
Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah paling cepat terasa pada barang impor bernilai tinggi. “Depresiasi rupiah biasanya paling cepat diteruskan ke harga barang elektronik, gadget, dan komoditas yang memiliki kandungan impor tinggi," dalam analisis makronya.
Pelemahan rupiah bukanlah isu abstrak atau yang hanya terpampang di grafik ekonomi. Dampaknya sangat konkret untuk kalangan muda. Contohnya:
Barang-barang ini mayoritas diperdagangkan dalam dolar. Ketika rupiah melemah, daya beli otomatis tertekan. Menurut data International Data Corporation (IDC), pasar smartphone global memang sedang bergeser.
Penjualan unit tidak lagi tumbuh secepat dulu. Namun average selling price (ASP) smartphone premium justru terus naik. Artinya, industri makin fokus menjual perangkat mahal dengan margin besar.
Apple adalah contoh paling jelas. Meski pangsa unit globalnya tidak terbesar, Apple mengambil porsi profit industri smartphone yang sangat dominan. Smartphone sendiri kini bukan barang tersier. Ia sudah menjadi alat kerja.
Content creator membutuhkannya untuk:
Freelancer memakainya untuk:
Mahasiswa mengandalkannya untuk:
Ketika harga perangkat naik, biaya hidup digital ikut naik. Ekonom dari CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menyoroti bahwa kelas menengah Indonesia kini sedang masuk survival mode. “Banyak rumah tangga masih punya pendapatan, tetapi ruang konsumsi diskresioner mereka makin sempit.”
Harga iPhone Rp26 juta juga menjelaskan mengapa skema paylater dan cicilan 0% semakin populer. Mari hitung. Jika iPhone 18 Pro dibeli lewat cicilan 24 bulan:
Rp26 juta / 24 = sekitar Rp1,08 juta per bulan
Bagi pekerja muda dengan gaji:
Angka itu cukup signifikan.
Financial planner Ligwina Hananto kerap mengingatkan bahwa gadget premium sebaiknya dibeli berdasarkan kebutuhan produktif, bukan semata FOMO. “Kalau cicilan gadget mulai mengganggu cash flow bulanan, artinya keputusan pembelian perlu dievaluasi.”
Nasihat ini makin relevan di era suku bunga tinggi. Karena bunga tinggi berarti:
Ada tiga faktor utama yang akan menentukan.
Ini faktor terbesar. Jika rupiah menguat, tekanan harga impor bisa berkurang.
Apple bisa menahan harga untuk menjaga demand. Atau justru menaikkan ASP.
Perubahan regulasi juga berpengaruh. Namun untuk saat ini, kombinasi:
membuat tren harga gadget masih cenderung naik.
Kisah iPhone 18 Pro Rp26 juta sebenarnya bukan soal Apple semata. Ini cermin perubahan ekonomi Indonesia. Dulu, pelemahan rupiah paling terasa di:
Kini dampaknya makin terasa pada ekonomi digital. Bagi generasi muda, rupiah yang lemah membuat gaya hidup digital menjadi lebih mahal.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Chrisna Chanis Cara pada 24 Jun 2026
Tulisan ini telah tayang di balinesia.id oleh Redaksi pada 24 Jun 2026
Bagikan