Uni Eropa Hentikan Penyelidikan Antisubsidi Terhadap Produk Asam Lemak Asal Indonesia

Minggu, 07 Mei 2023 13:43 WIB

Penulis:Herlina

Editor:Herlina

Screenshot 2023-05-07 114527.jpeg
Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan. (foto : istimewa)

JAKARTA, LyfeBengkulu.com- Otoritas Uni  Eropa  telah  menghentikan penyelidikan  antisubsidi  terhadap produk asam lemak (fatty acid) asal Indonesia. Keputusan tersebut ditetapkan Komisi Eropa melalui Commission Implementing Decision (EU) 2023/617 tertanggal 17 Maret 2023. 

Menanggapi keputusan penghentian penyelidikan tersebut, Menteri Perdagangan RI Zulkifli Hasan mengatakan hasil  tersebut  tidak  lepas  dari upaya  Kementerian  Perdagangan  yang  berpartisipasi aktif dan bersikap kooperatif di setiap tahapan penyelidikan.  

“Pemerintah  Indonesia  melalui  Kementerian  Perdagangan  berpartisipasi aktif  dalam  upaya mengamankan akses pasar ekspor produk Indonesia terhadap tindakan trade remediesdari negara mitra  dagang.  Hasil  positif dari  penyelidikan  antisubsidi  ini  tidak  lepas  dari  parsitipasi  aktif Kementerian Perdagangan dalam setiap tahapan penyelidikan,”ungkap Mendag Zulkifli Hasan.

Komisi Eropa menginisiasi penyelidikan Anti-Subsidi Produk Asam Lemakasal Indonesia pada 13 Mei 2022.  Permintaan  penyelidikan  disampaikan Coalition  against  Unfair  Trade  in  Fatty  Acid  (CUTFA) sebagaipemohon. Pemerintah  Indonesia pun berpartisipasi  aktif  dalam  penyelidikan tersebut dengan  mengikuti  konsultasi  prainisiasi, penyampaian  jawaban  kuesioner, dan penyampaiansanggahan kepada Komisi Eropa. 

Saat masa  penyelidikan, CUTFA  menarik  petisinya  pada  3  Oktober  2022. Dengan  penarikan  petisi ini, merujuk  pada Article  14(1)  EU  Basic Regulation, Komisi  Eropa dapat  melanjutkan  atau mengakhiri penyelidikan. Selanjutnya,berdasarkan  informasi  yang telah berhasil  dihimpun dalam masa penyelidikan,  Komisi  Eropa  menyimpulkan  bahwa penghentian penyelidikan  tidak akan bertentangan dengan kepentingan Uni Eropa. 

Dirjen Perdagangan Luar NegeriKementerian Perdagangan Budi Santoso menyampaikan, jika bea masuk  imbalan diterapkan  pada  asam  lemak Indonesia,  akan  ada dampak  tersendiri  bagi industri pengguna di  Uni Eropa.  

“Penerapan bea masuk imbalan  atas  produk asam  lemak Indonesia  akan memberikan  dampak  negatif  bagi  Indonesia  dan  Uni  Eropa,  sehingga kami menyambut  baik penghentian penyelidikan antisubsidi ini,”ungkap Budi. 

Berdasarkan  data Badan  Pusat  Statistik, ekspor  produk asam  lemak ke  Uni Eropa  pada  periode 2018–2022 meningkat sebesar 25,76 persen. Nilai ekspor terbesar tercatat pada 2021 sebesar USD403 juta. Sementara itu, untuk periode Januari 2023, ekspor tercatat sebesar USD 18 juta. Nilai ini turun 44,83 persen jika dibandingkan nilai ekspor Januari 2022 yang sebesar USD32 juta. (**)