Bakti Lingkungan Djarum Foundation Ajak Masyarkat Pahami Bibit Berkualitas

Herlina - Sabtu, 26 November 2022 21:52 WIB
Sururi, petani mangrove di Mangkang, menunjukkan bibit mangrove yang ia budidayakan. Sururi menjelaskan, setelah ditanam, bibit mangrove perlu dirawat setidaknya satu tahun agar tumbuh kuat dan tidak terseret ombak. (foto : ist/lyfebengkulu)

JAKARTA,LyfeBengkulu.com- Menyambut Hari Menanam Pohon Indonesia yang jatuh pada 28 November, Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) mengadakan kegiatan kunjungan, dialog dan lokakarya bersama pegiat lingkungan dan media ke Pusat Pembibitan Tanaman (PPT) BLDF di Kudus. Kegiatan ini berfokus pada proses perawatan dan pemilihan beragam jenis bibit tanaman, serta praktik penanaman pohon sebagai bentuk aksi nyata dalam upaya pengendalian iklim.

“Setiap tahunnya, BLDF melalui program Djarum Trees for Life (DTFL) telah konsisten melakukan kegiatan pelestarian lingkungan melalui penanaman pohon dan mangrove bersama masyarakat, utamanya generasi muda. Rata-rata, setiap tahunnya DTFL menanam 60.000 aneka ragam bibit tanaman di berbagai lokasi di Indonesia. Bibit-bibit tanaman ini diproses dan disemai di PPT, yang hingga hari ini kami sudah mengoleksi 360 jenis bibit tanaman, termasuk diantaranya 22 jenis tanaman langka,” ujar Vice President Director Djarum Foundation F.X. Supanji.

Bibit-bibit tanaman yang disemai di PPT milik BLDF ini juga dapat diakses oleh masyarakat. Secara rutin, BLDF membagikan bibit gratis ke masyarakat, yang mana hal ini sejalan dengan program pembagian bibit yang juga digalakkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Untuk memastikan bibit yang disemai dapat tumbuh dengan baik, serta mengembangkan teknik perawatan tanaman dengan hasil paling efektif, PPT Kudus bekerja sama dengan peneliti dan akademisi.

Turut hadir dalam kunjungan ke PPT BLDF, dialog, serta lokakarya ini adalah Ketua Jaringan Ahli Perubahan Iklim dan Kehutanan Indonesia serta Dosen Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia Dr. Ir. Mahawan Karuniasa. “Pemahaman masyarakat mengenai jenis-jenis pohon yang dapat menyerap banyak emisi dan sesuai kondisi ekosistem setempat seperti mangrove dan trembesi, harus tetap disebarluaskan, sehingga tidak hanya banyaknya aksi penanaman pohon saja yang diperlukan, tetapi memahami bibit berkualitas dan proses pemeliharaannya juga merupakan hal yang penting dalam upaya penanganan dampak perubahan iklim,” ujar Karuniasa.

Lebih lanjut, Executive Coach & Mentor for Climate & Sustainability Actions Amanda Katili Niode menyampaikan pentingnya keterlibatan aktif generasi muda dalam berbagai upaya mengkampanyekan percepatan penanggulangan perubahan iklim, utamanya dengan berjejaring bersama komunitas pegiat aksi perubahan iklim lainnya. Salah satunya seperti program Youth Leadership Camp for Climate Crisis (YLCCC) yang telah dilakukan sejak 2011. Kini, sudah lebih dari 2.500 alumni YLCC yang terus berupaya dalam membangun jaringan generasi muda Indonesia yang peduli dengan memberikan solusi nyata dalam penanggulangan krisis iklim.

Selain berkunjung ke PPT, BLDF juga mengajak rombongan untuk mengunjungi Desa Mangkang, Semarang, yang menjadi salah satu desa percontohan penanaman mangrove yang dibina oleh BLDF sejak 2008. Pada kesempatan ini, rombongan disambut oleh Sururi, petani binaan BLDF yang menginisiasi rehabilitasi ekosistem mangrove di garis pantai Desa Mangkang seluas hampir 80 hektar, dengan 27 jenis mangrove. Tidak hanya berdampak ekologis, pelestarian kawasan pesisir yang dilakukan Sururi juga memberikan manfaat ekonomi bagi warga sekitar dengan memanfaatkan buah mangrove sebagai pewarna untuk usaha batik, bahan pengolahan makanan dan sirup.

BLDF senantiasa berkomitmen menggandeng lebih banyak pihak termasuk melibatkan generasi muda untuk menyebarluaskan semangat cinta lingkungan dari mulai cara yang paling sederhana yaitu menanam pohon serta merawatnya. Dalam rangkaian kegiatan Presidensi G20 yang baru saja selesai dilaksanakan, Presiden Joko Widodo pun menggandeng pemimpin-pemimpin negara lain untuk ikut menanam pohon sebagai bentuk upaya konkret dalam upaya bersama terkait perubahan iklim. (**)

Editor: Herlina

RELATED NEWS