Jangan Tunggu Sakit, Ini Cara Antisipasi Biaya Berobat
JAKARTA – Masyarakat Indonesia mengeluarkan sekitar Rp175 triliun setiap tahun untuk biaya kesehatan dari dana pribadi. Nilai ini setara 28,8% dari total pengeluaran kesehatan nasional, dan sebagian besar sebenarnya bisa dihindari.
Data tersebut disampaikan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Faktanya, masih banyak masyarakat yang belum memiliki perlindungan kesehatan, baik melalui BPJS maupun asuransi swasta. Akibatnya, ketika sakit, seluruh biaya harus ditanggung sendiri.
Beban Biaya Kesehatan Masih Tinggi
- Total pengeluaran kesehatan mandiri: Rp175 triliun/tahun
- Setara 28,8% dari total belanja kesehatan nasional
- Sekitar 28,8% warga belum punya BPJS atau asuransi
- Kontribusi asuransi komersial baru 5%
- BPJS Kesehatan menanggung sekitar 27,1% pembiayaan
OJK bergerak memperluas kepesertaan asuransi komersial melalui koordinasi lintas kementerian dan lembaga. Regulasi terbaru, POJK No. 36 Tahun 2025 yang berlaku per 22 Maret 2026, turut memperketat perlindungan konsumen: skema co-payment tidak lagi wajib, dan jika diterapkan, maksimal hanya 5% dari nilai klaim.
Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian OJK, Ogi Prastomiyono, menyebut pihaknya akan terus bersinergi agar lebih banyak masyarakat masuk program asuransi komersial.
Ada yang Lebih Murah dari Asuransi: Tidak Sakit
Di balik angka Rp175 triliun itu, ada ironi yang jarang dibahas. Sebagian besar pengeluaran itu sebenarnya bisa dicegah, bukan dengan produk keuangan, tapi dengan kebiasaan sehari-hari.
Penyakit tidak menular seperti diabetes, hipertensi, dan penyakit jantung mendominasi beban kesehatan nasional. Biaya pengobatan diabetes dengan komplikasi bisa mencapai puluhan juta rupiah per tahun. Tapi risikonya bisa ditekan lewat hal-hal yang tidak butuh modal besar.
Beberapa pendekatan konkret:
1. Makan lebih sadar, bukan lebih mahal
Mengurangi gula tambahan, makanan ultraproses, dan minuman manis bisa menekan risiko diabetes tipe 2 secara signifikan. Tidak perlu diet eksklusif cukup kurangi kopi susu gula dua sachet sehari jadi satu, dan konsisten.
2. Gerak 30 menit sehari
Olahraga rutin terbukti menurunkan tekanan darah, mengontrol gula darah, dan mengurangi risiko penyakit kardiovaskular. Tidak harus gym berbayar jalan kaki atau lari pagi sudah cukup.
3. Medical check-up berkala
Deteksi dini jauh lebih murah dari pengobatan. Banyak puskesmas dan klinik swasta kini menawarkan paket check-up dasar di bawah Rp300 ribu. Mengetahui kondisi kolesterol atau gula darah lebih awal bisa mencegah biaya jutaan rupiah di kemudian hari.
4. Tidur cukup dan kelola stres
Kurang tidur kronis berkaitan langsung dengan peningkatan risiko hipertensi dan obesitas. Dua kondisi yang sama-sama mahal jika dibiarkan.
Kalau Sehat, Uangnya Ke Mana?
Dengan menekan risiko sakit, pengeluaran kesehatan mendadak bisa berkurang jutaan rupiah per tahun. Untuk segmen pembaca TrenAsia yang sedang membangun fondasi finansial, penghematan itu bukan angka kecil.
Beberapa opsi yang relevan:
- Dana darurat — target 3–6 bulan pengeluaran, simpan di reksa dana pasar uang atau deposito digital dengan bunga kompetitif
- Investasi rutin — mulai dari Rp100 ribu/bulan di reksa dana saham atau ETF indeks, manfaatkan efek compounding jangka panjang
- Upgrade skill — kursus online bersertifikat di bidang green jobs, data, atau desain yang relevan dengan tren pasar kerja Asia
- Proteksi yang tertunda — justru gunakan sebagian untuk asuransi kesehatan komersial yang selama ini dianggap "belum perlu
Intinya sederhana: tubuh yang sehat adalah aset finansial yang sering diabaikan. Rp175 triliun yang bocor dari kantong masyarakat Indonesia setiap tahun bukan hanya masalah sistem, sebagian adalah tagihan dari kebiasaan yang bisa diubah hari ini.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 19 Apr 2026
Tulisan ini telah tayang di balinesia.id oleh Redaksi pada 22 Apr 2026
