Banyak Ternak Liar dan Kurang Tenaga Vaksinator Jadi Kendala Percepatan Penanganan PMK

Jumat, 07 Oktober 2022 07:51 WIB

Penulis:Herlina

Editor:Herlina

WhatsApp Image 2022-10-06 at 5.48.56 PM.jpeg
Hewan ternak yang dilepasliarkan liar hingga kurangnya tenaga vaksinator di lapangan menjadi kendala utama penanganan wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) di Bengkulu. (foto : ist/lyfebengkulu)

BENGKULU,LyfeBengkulu.com-  Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Provinsi Bengkulu Muhammad Syarkawi menyebut upaya penanganan wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) melalui vaksinasi PMK terhadap ternak di wilayah ini masih belum bisa optimal.

Hal ini lantaran dalam pelaksanaan vaksinasi terkendala beberapa faktor seperti hewan ternak yang dilepasliarkan liar hingga kurangnya tenaga vaksinator di lapangan.

"Kendala terbesar kita yakni banyak hewan yang dilepasliarkan oleh pemiliknya. Kondisi ini masif dan susah dirubah, apalagi kepemilikan hewan ternak oleh masyarakat begitu adanya. Satu orang bisa memiliki lebih dari 25 ekor ternak, dan ternak ini dilepas di hutan atau kebun-kebun sawit. Ini yang menjadi kendala kita," ungkap Syarkawi. 

Syarkawi menambahkan, walaupun kondisi tersebut terjadi, dengan perjuangan petugas yang dimiliki pihaknya dan dengan upaya yang ada juga mempertimbangkan kondisi, optimalisasi penanganan PMK yang dilakukan terus diusahakan menyeluruh oleh Disnakeswan dan jajaran.

"Petugas kita dengan segenap perjuangan, ternak yang sudah tervaksin sudah mencapai 28 ribu. Ini sudah luar biasa," kata Syarkawi.

Lebih lanjut, dalam faktor kekesediaan tim vaksinator baik provinsi maupun kabupaten/kota, Syarkawi menyebut jumlahnya masih sangat kurang, jika dibandingkan dengan luasan wilayah Bengkulu dan jumlah ternak yang ada.

"Kalau masih dibilang cukup masih sangat kurang, jangkauan dan luasan wilayah yang cukup jauh dan kondisi peternakan kita yang rata-rata banyak dilepasliarkan itu sangat kurang. Sehingga kita berharap rekan Babinsa/Bhabinkamtibmas membantu teman-teman di Dinas-dinas kabupaten/kota," papar Syarkawi.

Dirinya berharap dari pemerintah atau Satgas pusat dapat melakukan pelatihan atau bimbingan teknis (Bimtek) tenaga vaksinator PMK, yang melibatkan berbagai pihak yang turun dilapangan seperti Bhabinkamtibmas atau Babinsa.

"Diharapkan dengan hal itu setiap desa atau minimal kecamatan ada Bhabinkamtibmas/Babinsa yang bisa mencakup wilayah masing-masing. Kita sudah sampaikan kepada tim satgas pusat yang hadir pada hari ini, bahawa kita sangat membutuhkan pelatihan untuk tenaga vaksinator, yang melibatkan tim satgas kita dan unsur TNI/Polri," imbuhnya. 

Sementara itu, terkait stok vaksin atau penambahan jumlah vaksin PMK, Syarkawi menyebut akan dilakukan jika stok vaksin yang telah dialokasikan pusat sebelumnya sebanyak 38.300 dosis vaksin dapat digunakan seluruhnya.

"Kalau penambahan vaksin itu asalkan kawan-kawan sudah bisa menyelesaikan 38.300 dosis yang ada pada kita sekarang, segera kita akan minta lagi. Namun stok yang ada itu belum selesai, kita masih menghabiskan yang ada," pungkasnya. (mb)