Pemanfaatan Otomatisasi Ritel untuk Mengurangi Masalah TPA dan Limbah Makanan di Indonesia

Herlina - Jumat, 29 Maret 2024 12:55 WIB
Setiap tahunnya Indonesia menghasilkan jutaan ton sampah makanan mulai dari tahap produksi, distribusi, sampai konsumsi. Namun, industri ritel seringkali menghadapi kendala untuk memprediksi permintaan konsumen yang fluktuatif dan juga ketersediaan produk di etalase toko. (foto: istimewa)

JAKARTA, LyfeBengkulu.com- Pengelolaan sampah merupakan permasalahan laten di Indonesia, dengan banyaknya Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang terus beroperasi meskipun sudah melebihi kapasitas; keadaan ini pula yang menyebabkan kebakaran di 30 TPA sepanjang tahun 2023. Selain pengelolaan TPA, Indonesia juga menghadapi tantangan yang signifikan terkait timbunan sampah makanan.

Sekitar 70 persen dari total sampah yang ditimbun di TPA merupakan sampah organik, yang terutama berasal dari makanan yang jumlahnya mencapai 23–48 juta per tahun dan menempati peringkat kedua di dunia. Timbunan sampah makanan yang menumpuk tidak hanya memiliki dampak negatif terhadap lingkungan namun juga memberikan beban yang cukup besar pada pengelolaan TPA.

Ketika stok persediaan melebihi permintaan, terutama bahan makanan segar, peritel menghadapi tantangan yang signifikan dalam mengelola limbah, yang dapat mengakibatkan penurunan harga atau pembusukan. Program Lingkungan PBB (UNEP) mengungkapkan bahwa produksi dan konsumsi makanan merupakan pendorong terbesar kerusakan alam. Sistem makanan yang tidak saling terhubung (silo) dan masih manual berakibat pada penggunaan sumber daya yang kurang efisien.

Selain limbah makanan, dalam prosesnya kita juga turut menyia-nyiakan energi dan air yang dibutuhkan untuk melakukan produksi, panen, transportasi produk, hingga pengemasan makanan. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. P.75 Tahun 2019 menetapkan Peta Jalan Pengurangan Sampah, yang mewajibkan produsen di sektor manufaktur, ritel, dan jasa makanan dan minuman untuk mengurangi sampah dari produk, wadah, dan/atau kemasan.

Menanggapi masalah ini, Onni Rautio, Sales Director RELEX Solutions, membagikan pandangannya, "Sampah makanan merupakan masalah serius yang hanya dapat diselesaikan melalui upaya kolaboratif dari tiap individu dan kelompok kolektif yang terlibat. Selain konsumen perlu lebih cerdas dalam mengonsumsi makanan untuk mengatasi masalah sampah yang semakin mengkhawatirkan, para peritel dapat memanfaatkan otomatisasi sistem agar dapat turut berkontribusi dalam mengurangi sampah makanan dan mengurangi masalah tempat pembuangan sampah di Indonesia. Melalui pencegahan kelebihan stok dan memprediksi permintaan secara akurat, otomatisasi secara efektif meminimalkan kelebihan bahan makanan yang terbuang percuma. Selain itu, otomatisasi juga akan membantu peritel untuk menyederhanakan pengelolaan persediaan agar lebih efisien, mengoptimalkan proses pemesanan, serta meminimalkan melakukan penanganan secara manual, yang turut berkontribusi pada praktik ritel yang lebih berkelanjutan dan efisien."

Retail menjadi pihak penting dalam pendistribusian produk makanan dari supplier ke masyarakat sehingga para peritel perlu memiliki manajemen data terpusat dengan memanfaatkan teknologi AI dan solusi perencanaan terpadu agar dapat memprediksi permintaan pelanggan secara akurat. Melalui otomatisasi sistem ritel yang akurat, pemilik toko dapat mengidentifikasi kelebihan stok yang tidak perlu dengan menganalisis data penjualan sebelumnya, tren musiman, dan faktor lain yang mempengaruhi permintaan dan stok tiap produk. (foto: istimewa)

Strategi pengelolaan limbah makanan yang efektif sangatlah penting untuk mengurangi dampak buruk yang dihasilkan. Beberapa peran otomatisasi ritel dalam mengurangi limbah makanan antara lain:

Prediksi permintaan produk dapat membantu peritel untuk memprediksi permintaan konsumen, menyesuaikan tingkat persediaan, dan memastikan tingkat stok sesuai dengan kebutuhan konsumen. Dengan memanfaatkan analisis data dan pembelajaran mesin, peritel dapat mengantisipasi fluktuasi permintaan, meminimalkan kelebihan stok, dan mengurangi jumlah makanan berlebih yang terbuang percuma, sehingga dapat mengurangi limbah makanan secara signifikan.

Pelacakan tanggal kedaluwarsa otomatis dapat meningkatkan pengelolaan persediaan dengan merotasi stok secara efektif dan secara akurat melacak serta mengelola masa simpan produk untuk mengurangi kemungkinan kelebihan stok dan secara bertahap mencegah produk kedaluwarsa terbuang percuma. Sistem ini menyederhanakan operasi, meminimalkan penanganan secara manual, dan membuat keputusan yang lebih tepat untuk mengurangi pemborosan makanan dan meningkatkan rotasi produk.

Sistem pengelolaan persediaan pintar memiliki fitur peringatan otomatis untuk tiap produk yang memiliki tingkat persediaan rendah, penundaan pengiriman untuk produk yang masih tersedia, dan apabila terjadi kelebihan stok. Sistem ini memantau dan menganalisis data persediaan untuk mengidentifikasi barang yang jarang terjual atau yang sudah kedaluwarsa, menggunakan perangkat lunak pelacakan otomatis untuk memastikan persediaan secara akurat. Memiliki strategi pemasokan produk yang berbasis data akan meminimalkan risiko kelebihan stok, sehingga mengurangi kerugian akibat limbah produk busuk dan kedaluwarsa.

Teknologi perencanaan rantai pasokan yang canggih dapat membantu peritel mengurangi limbah makanan, meningkatkan akurasi perkiraan, mengoptimalkan pesanan toko, melacak tanggal kedaluwarsa produk, dan mengurangi limbah makanan hingga 10–40% sambil mempertahankan profitabilitas dan ketersediaan produk di rak. RELEX baru-baru ini memperkenalkan aplikasi mutakhir berbasis AI RELEX Mobile Pro, solusi ideal bagi peritel yang ingin mengkonsolidasikan banyak alat dan proses di dalam toko. Laporan terbaru dari RELEX Solutions menemukan bahwa pada tahun lalu, solusi berbasis AI perusahaan membantu pelanggan ritel makanan RELEX di seluruh dunia menghemat sekitar 280 juta kg limbah makanan di seluruh rantai pasokan berkat perkiraan yang lebih akurat dan pengoptimalan persediaan—setara dengan lebih dari 950.000 metrik ton CO2.

"Menerapkan solusi otomatisasi ritel di Indonesia dapat memberikan beberapa manfaat bagi lingkungan. Selain mengurangi limbah makanan, otomatisasi secara signifikan dapat membantu mengurangi konsumsi energi dan mengoptimalkan rute transportasi untuk menurunkan emisi. Perlu diperhatikan bahwa tren pelanggan Indonesia mulai bergerak ke praktik-praktik yang ramah lingkungan dan memiliki misi keberlanjutan. Tren ini telah menyebabkan segmen konsumen ramah lingkungan di Indonesia terus meningkat, sehingga mendorong peritel untuk menyesuaikan produk dan menjalankan praktik dengan pendekatan yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan untuk memenuhi permintaan ini. Tanpa otomatisasi, bisnis dapat mengalami inefisiensi dan menghadapi potensi kerugian finansial yang signifikan karena ketidakmampuan untuk menganalisis data secara real-time. Selain itu, otomatisasi tugas-tugas rutin memungkinkan karyawan untuk fokus pada kegiatan yang lebih penting, yang berkontribusi pada pengurangan biaya secara keseluruhan," tutup Onni.

Editor: Herlina
Bagikan

RELATED NEWS